Catatan Duka

11.05



Dealing with loss and heartbreak were never be easy, never will.

Setelah beberapa bulan lalu kami ditinggal Papa, untuk saya Papa mertua, beberapa hari lalu kami ditinggal mami, ibu saya. Beliau meninggalkan kami semua setelah sakit dan menua beberapa bulan lamanya.

Tidak ada yang mudah dari berduka. Banyak hal yang rasanya perlu diperbaiki dari hubungan kami, bagaimana kami selalu berselisih paham. Bagaimana kami selalu bersebrangan pendapat dan bagaimana saya menyesal cuma punya sedikit waktu untuk berdamai dengan beliau.

Kelihatannya, kehilangan orangtua setelah kamu dewasa akan lebih mudah dibandingkan kehilangan ketika kamu masi kecil belum bisa apa-apa, setelah dewasa seolah kamu sudah bisa bertahan sendiri, bisa cari nafkah sendiri, bisa berbagi  dengan keluarga kecilmu sendiri. 

Ternyata saya salah. Kehilangan ini tetap meninggalkan lubang di hati kami, belum ada yang bisa menyembuhkannya selain waktu yang berangsur membuat kami lebih tegar,  agar tidak menangis saat membicarakan kehilangan kami. Agar tidak tersedu-sedu membicarakan penyesalan kami. Iya, Cuma sampai situ.

Malam ini ketegaran kami kembali diuji, saat itu, kami menerima kabar bahwa adik bungsu kami akhirnya lulus sidang sarjana, mungkin menjadi simbol titik akhir Mama (mertua) saya berjuang untuk meneruskan tugas Papa yang belum usai, mengantar adik bungsu kami menjadi sarjana.

Saat sidang kemarin, adik bungsu kami memakai jas Papa, memakai sepatu Papa, mungkin semata mata agar ia bisa merasakan didampingi oleh Papa. Kami menangis melihatnya, walau hanya dari jauh. Papa pasti bangga dek :’)

Malam itu kami kembali berbincang tentang penyesalan, suami saya bilang diawal masa sakitnya Papa pernah minta dibelikan sepatu baru, tapi tidak sempat dibeli karena Papa terus menerus terbaring di rumah sakit. Penyesalan kembali datang, kenapa ya nggak aku belikan saja, gak usah nungguin Papa bangun dan bawa beliau ke mall.

Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa kita perbaiki dengan mudah kadang menjadi sulit ketika masanya sudah lewat dan gak bisa kita apa-apakan lagi.

Tulisan ini mudah-mudahan bisa jadi pengingat untuk saya, don’t take your loved one for granted. Semasa orangtua masih ada, habiskanlah waktu yang tersisa bersama mereka, senangkan mereka, setelah saya pikir-pikir, gak butuh materi atau uang yang banyak sekali kok untuk buat orangtua tersenyum. Kadang mereka lebih mengapresiasi hal-hal kecil yang kita lakukan dengan tulus.  

Have a nice weekend :-)

With love
Nadia