Kunjungan ke Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana

15.12


19 Januari 2017
Malam itu tidur kami tidak nyenyak, setiap satu jam sekali Arwen terbangun dan menangis karena hidungnya mampet, batuk berdahak dan napas nya sesak. Saya sudah memberikan pertolongan pertama yang bisa saya lakukan dirumah, dimulai dari cara tradisional, membalur badan arwen dengan oil sampai dengan menggunakan inhaler dan mesin nebulizer.
Semua gak memberikan efek yang signifikan, napas masih sesak dan jika saya hitung dalam satu menit tarikan nafasnya lebih dari 40 kali.
Jam 4 subuh kami ke UGD. Arwen di Opname selama 4 hari dengan diagnosa Asma berat akibat dari bronkopneumonia.

15 Maret 2017
Lebih buruk dari yang pertama, bahkan inhaler dan nebulizer tidak bisa meredakan sesak napas, malam itu adalah malam terpanjang dalam hidup saya karena harus menghadapi mimpi buruk menunggu Arwen di ICU. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini.

Kalau diingat lagi saya masih merinding sekujur badan, tidak mau lagi kembali ke situasi malam itu, saya  berjanji, Hati dan mental saya nggak akan sanggup. Nggak akan.

11 September 2017
Setelah “bekerja keras” selama 6 bulan menghindari segala pencetus asma yang kami bisa, malam itu jam 3 dinihari kami berkunjung lagi ke UGD rumah sakit dekat rumah, setelah 2 kali percobaan nebulizer, sesak napas Arwen belum juga mereda.
Malam itu saya kembali ke situasi dimana saya ingin merelakan apa saja untuk memindahkan sakit yang Arwen rasakan ke saya. 

“Dulu ketika saya menghadapi kontraksi melahirkan, setelah 18 jam diinduksi, ketika rasanya seluruh sakit yang ada di dunia diletakan di tulang panggul saya, suster meminta saya untuk menjawab pertanyaan: “In Scale 1 to 10, how you rate your pain?”

Demi Tuhan, saya belum pernah merasa sesakit itu, sakit yang rasanya tarikan napas saja bisa bikin tulang belakang tercabut dari badan. It was awfully hurts!
Tapi, saat itu dengan sisa tenaga yang saya punya, dengan yakin saya mengacungkan 9 jari, kenapa sembilan, padahal sakitnya sudah tidak tertahankan? Because Im saving the Great 10 for Arwen, sakit yang sebelunya saya rasakan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sakit yang harus saya hadapi ketika melihat anak saya mega-megap kehabisan napas mencari oksigen, sakit ketika menghadapi jeritan tangis ketika tangan mungilnya ditusuk jarum, dan sakit ketika mendengar dokter berkata: “ Ibu tolong jaga dia tetap sadar, jangan sampai gagal napas, bisa lewat..”

Tiga kali, kami mengalami perjalan mahal menghadapi malam kritis, sungguh Traumatis.

Saat ini Arwen sehat walafiat, tidak kurang satu apapun, tetapi tetap saja, kami harus berjaga agar serangan asma tidak datang lagi. Setelah 3 kali pengalaman opname, saya mulai berpikir selama ini kami selalu ke dokter ketika serangan asma sudah datang. Dokter spesialis anak dan spresialis paru selalu menganjurkan untuk menghindari penyebabnya. Hindari pemicunya. Saya sudah bisa mengidentifikasi apa aja sih pemicu sakit asma Awen (vetsin, cokelat etc) tapi tidak pernah tau pasti karena Arwen tidak pernah menjalani test alergi.

Saat itu saya ingin mencoba mencari opini lain dari RS di Penang, namanya juga ikhtiar kan? Tapi ketika mengobrol dengan salah satu teman saya yang sudah pernah berobat ke Penang (bukan ke klinik alergi dan asma sih berobatnya) dia menyarankan untuk coba di cek dulu ke Klinik Alergi dan Asma Dr. Indrajana di Tanah Abang. Karena alergi nya terobati disini.

Oke berhubung lokasi kliniknya dekat dengan kantor, gak ada salahnya untuk dicoba.



Kamis, 28 September 2017
Saya menghubungi klinik tersebut untuk berkonsultasi dengan dr. Moestopo Widjaja, beliau hampir setiap hari praktek di klinik dr. Indrajana, jadwal bisa dilihat disini. Sesi konsultasi diatur per kedatangan, tapi gak usah khawatir, antrian nya gak se-kejam kalau antri dokter di RS kok, most likely dr Moestopo standby di Klini, jadi jarang ngaret.
Saat saya datang konsul, saya update status lewat instastory, ada beberapa teman saya menanggapi, ada yang bapaknya dulu kena asma berat dan bisa ditanggulangi setelah konsul dengan Dr. Indrajana  (Fyi, saat ini yang mengelola klinik dr. Indrajana sudah generasi kedua, Dr. Indrajana sudah meninggal dunia saat ini diteruskan oleh anak dan menantu nya). Wah ternya klinik ini sudah lumayan terkenal sejak dulu, nyesel juga baru tahu sekarang.

Pertama kali konsultasi setelah mendaftar, Arwen dipanggil untuk diambil darahnya untuk screening.  Iya, langsung diambil darah banget :’) diambilnya lumayan banyak sekitar 4ml ternyata sample darah ini disimpan jika butuh test tambahan setelah hasil screening darah pertama keluar. More on that later.

Setalah nya saya diwawancara oleh suster yang bertugas, pertanyaan standar untuk anak asma seperti: sejak kapan kambuh asma nya, ada keturunan atau tidak, dirumah ada binatang peliharaan atau tidak, ada yang merokok?

Selanjutnya kami ketemu pak dokter untuk pemeriksaan fisik anaknya, sambil konsultasi gimana sih daily habit nya anak ini. Doktenya sudah senior, keliatan sudah sanagn berpengalaman  berbagai macam penyakit asma dan alergi. Galak tapi informatif dan lucu (ini gimana sih buk maksudnya?)
 Pak dokter tanya:  

Dokter: Siapa yang nurunin asma nih?
Ibuk:  Saya dan suami saya dua-duanya Asma dok.
Dokter: Waduh
Ibuk: Iya, kalo dulu saya tau mah gak saya kawinin dok.
Dokter: *ngakak*

Sambil menunggu hasil test darah keluar, pak dokter meresepkan obat racik yang bisa kami simpan kalau-kalau terjadi serangan asma, diminum 3x sehari, obat ini disimpan di kulkas dan bisa bertahan selama 4 bulan sejak tanggal racik. Pak dokter menyarankan untuk memperbaiki kualitas gizi, meminimalisir debu di rumah, serta olahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh Arwen.

Setelah selesai konsul  saya melihat fasilitas klinik ini ada UGD 24 jam bila serangan alergi dan asma tidak bisa tertangani di rumah, cukup melegakan walaupun saya nggak berharap untuk datang kesini.

Senin, 2 Oktober 2017
Hasil pemeriksaan darah pada screening pertama sudah keluar, menunjukkan laju endap darah & Eosinofil yang lebih tinggi dari keadaan normal. Kalau saya baca ini adalah mekanisme pertahanan tubuh terhadapa alergi atau bakteri, jadi memang ada kecenderungan infeksi bakteri atau alergi.

Nah dari sini dokter merekomendasikan untuk test alergi lanjutan, untuk mencari tahu pasti sebenernya Arwen alergi apa sih?
Ada 5 kategori yang menjadi sub test alergi kalau saya baca dari rujukan:

  • 1.       Alergen hirup (debu, tungau, kotoran kecoa dll)
  • 2.       Spora jamur
  • 3.       Pollen/Tepungsari
  • 4.       Serpihan kulit
  • 5.       Makanan


Setiap orang akan dirujuk berbeda berdasarkan hasil interview, berdasarkan habit, dan berdasarkan terpaan dari penyebab alergi ini. Arwen gak tinggal di peternakan kan, jadi gak perlu tuh tes alergi bulu domba, atau selama ini dia baik-baik aja pas makan nasi, jadi gak perlu di test alergi nasi atau nggak. Bisa juga sih test semuanya, TAPI MAHAL BANGET JADINYA!

Nah, test lanjutan ini menggunakan sample darah yang sudah diambil sebelumnya. Ada sih cara lain yaitu prick test, yang ditusuk langsung dibawah kulit ditunggu beberapa waktu dan liat reaksinya, tapi untuk seusia Arwen masih terlalu kecil. Mungkin diatas 5 tahun baru bisa.

Nah, Senin minggu depan hasil test alergi Arwen baru akan muncul. Saya berharap banget bisa segera tau dan bisa menghindari pemicu asma Arwen. Walaupun sakit Asma gak semerta-merta hilang paling nggak usaha kami untuk menghindari pencetusnya bisa lebih baik dan lebih spesifik.

Eh ini ya bocoran biaya saya ketika konsul ke Klinik Asma dan Alergi Indrajana:
Biaya Administrasi Rp. 35.000 (pasien baru)
Biaya konsul dokter Rp. 250.000,-
Lab Screening : Rp. 85.000,-
Obat : Rp. 158.000,-
Test Alergi : Rp. 1.421.000,-


Alamat:
Klinik Asma dan Alergi  Dr. Indrajana
Jl. Tanah Abang 3/18A Jakarta 10160 – Jakarta
021-3841919, 3803558

Demikian postingan ibuk, semoga bisa membantu untuk orangtua yang sedang berjuang menanggulangi penyakit Alergi dan Asma anak-anaknya. Eh gak Cuma untuk anak-anak sih, klinik ini juga bisa untuk orang dewasa. Semangat ya!

@noninadia out.  



You Might Also Like

2 comments