Tarik Napas Dulu, Ibuk!

13.21



Situasinya kira-kira seperti ini; 

Hari ini adalah awal bulan, saya harus bekerja ekstra di kantor untuk melakukan rekapitulasi, rekonsiliasi segala transaksi yang sudah dilakukan bulan lalu, dengan sederet laporan dan angka keriting yang bikin pusing. Oh belum selesai, selayaknya hidup yang kayaknya kurang tantangan, semua rekapitulasi ini harus memenuhi target 2 hari untuk selesai dan di submit ke bos besar. (literally besar karen bos saya gendut.. hmmmm kay) 

Diantara riweuhnya pekerjaan, nanny mengabari: 

"Ibuk, Arwen demam, suhunya 38,8 boleh saya kasih paracetamol?"
saya jawab:
"Boleh Nanny, silakan dikasih. tolong kabari saya kalau dia rewel mudah-mudahan bisa saya jemput secepatnya" 

Selesai dari pekerjaan di kantor ngibrit ke stasiun Gondangdia untuk ngejar kereta jurusan Jakarta Kota - Bekasi yang kadang antara ketersediaan unit dan kapasitas penumpangnya nggak seimbang. baca: berdiri tegak macam ikan pepes di dalam gerbong. 60 menit sampai tiba di stasiun Bekasi, 75 menit sampai akhirnya tiba dirumah. 

Nggak, belum selesai. Sampai dirumah ketemu Arwen yang suhu badannya naik jadi 39,5 rewel, nggak mau makan, nggak enak tidur. satu-satunya cara membuat dia nyaman adalah dengan digendong kain dan dinyanyikan nina bobok sampai tertidur di pelukan saya. 

Iya, Arwen umur 3 tahun 2 bulan, beratnya 15 kilo. berat sih kalau digendong atau dipangku berjam-jam. #ibukGakpapa #ibukQuat 

Apa malam itu saya tidur? iya, tidur kok. tapi setiap satu jam bangun untuk menenangkan Arwen yang mengigau karena demam. 
Iya, gakpapa, tapi saya bukan supermom. saya nangis kelelahan malam itu. Begini amat ya rasanya jadi ibu... tapi kan saya nggak punya pilihan resign dari menjadi ibu ya. 

Untungnya setelah 3 tahun berjuang, saya masih terus dan akan terus bertahan dengan resep sederhana ini: 

1. Apa Ibu sudah cukup minum? 
Segelas air selalu bisa menjadi pelarian saya, ketika sudah terlalu lelah, ketika ingin meledak marah atau ketika air mata sudah mengambang di pelupuk mata. "Time out" Ibu minum dulu sebentar ya. atau kalau gak memungkinkan seperti ketika ditiban anak begini, bisa minta tolong: "Beh, ambilin air dong.." 


2. Apa Ibu Sudah makan sesuatu selama 3 jam terakhir? 
percayalah segala sesuatu akan lebih mumet jika ditangani dengan perut yang lapar. beneran coba deh makan dulu sebentar. 

3. Apa Ibu sudah mandi? 
Menghadapi anak sakit, menghadapi anak rewel atau urusan rumah yang gak kelar-kelar akan lebih buruk rasanya ketika badan kita lengket, muka berminyak, rambut semrawut ini lebih bikin mood kacau. Memang benar waktu sendiri ibu sangat berharga, bahkan buat saya mandi aja bisa jadi me-time. 

4. Apa Ibu sudah memeluk/dipeluk hari ini? 
Sekuat apapun saya, se tegar apapun saya berusaha, ada masanya saya down dan hanya ingin dipeluk suami. hanya saja, bagi sebagian ibu suka gengsi untuk mengaku dan meminta bantuan. percayalah bunda, bapak-bapak ini bukan gak mau bantu cuma mereka clueless harus melakukan apa. coba deh bicara yang manis, harusnya mereka akan membantu, memeluk, memberi support dengan senang hati.  

Mungkin benar, gimana cara menerapkan tips diatas kalau anak ditinggal sebentar aja sudah rewel dan nangis jejeritan? Bunda, bahkan di standart keselamatan pesawat terbang kita harus memakai masker oksigen untuk diri sendiri dulu baru membantu orang lain. jadi benar kan kalau mau punya anak yang happy ibunya juga harus waras dan happy dulu. so please, allow you to have some breath. 

Mengurus anak bukan perkara sehari-dua hari, bukan seperti lari spint yang sebentar aja sudah selesai. mengurus anak rasanya akan seperti lari marathon. Maka lari marathon secara wajar akan ada masa lelah dan menurunkan kecepatan, akan ada timeout untuk rasa bosan, bahkan mungkin akan ada kram kaki dan berjalan terpincang-pincang. 

Saya? nggak suka lari, boleh gak naik gojek aja? 
hahahahahahahahaha. 

 Welcome to the jungle of parenthood! Percayalah tidak ada orangtua yang sempurna, karena sempuna hanya milik Ibu Kawa ☺️☺️


@noninadia out 


You Might Also Like

0 comments