Catatan Kecil di Selasar RS Kanker Dharmais

01.56

Rumah Sakit Kanker Dharmais,
12 Juni 2017

I got my heart broken everytime I steped into this hospital. Untuk hati saya yang cemennya setengah mati ini, semua pemandangan yang ada disini terlalu menyakitkan. 

Di siang hari yang panas, saya bertemu dengan seorang kakek yang ditemani kerabatnya menunggu di selasar bangunan rumah sakit, memeluk erat amplop yang terdapat tulisan “Radiologi- jangan dilipat” dengan tatapan mata kosong.

Dilain hari ketika saya menunggu lift tangan saya tidak sengaja bersentuhan dengan anak kecil berkursi roda, dengan selang-selang infus, berwajah pucat,  berkepala nyaris botak namun masih bisa menegur saya: “halo... “ dengan senyum lebar.

Pernah juga saat menemani teman saya diambil sample darah untuk screening menjadi donor, di bilik pengambilan contoh darah ada anak bayi berumur setahun yang di gendong ibunya, terpaksa dipengangi erat-erat karena tubuh kecilnya berontak ketika jarum suntikan yang tajam menusuk kulitnya, saya masih ingat suara tangis bergema di kepala saya ketika anak itu merintih sambil mengucap..” sakit ibu... sakit...”

Too much pain to handle.

Saya menuliskan postingan ini setelah kembali dari kunjungan saya dari rumah Sakit Kanker Dharmais, beberapa bulan terakhir ini saya menjadi frequent visitor di tempat ini karena papa mertua saya saat ini sedang menjalani perawatan akibat menderita Leukimia. Keadaan beliau semakin hari semakin menurun, saya terlalu awam untuk mengerti istilah-istilah kedokteran yang disebutkan. Tapi semuanya terdengar mengkhawatirkan.

Kami memanggil beliau dengan sebutan Bakas (Bahasa Palembang untuk Kakek, mama Kami panggil Niyay, Sebutan nenek untuk bahasa Palembang), sejak beberapa bulan terakhir, Niyay selalu berada di samping Bakas, mendampinginya, telaten memberikan obat, telaten menyuapi makan dan minum, telaten membersihkan badan Bakas ketika kondisinya semakin lemah. Niyay memberikan saya the high standart of relationship ketika istilah bersama dalam suka dan duka, dalam susah dan senang, dalam sehat dan sakit ternyata bukan sekedar kata-kata.

Kadang ketika melihat keadaan ini saya menjadi takut akan masa depan. Apakah ketika salah satu dari kami sakit, kami akan sekuat seperti ini saling mendampingi. apakah kekuatan dan kesabaran saya cukup jika diumur sepuh nanti saya diberi cobaan penyakit. 



Semua hal yang kami alami saat ini sejujurnya cukup mengguncang mental saya, saya baru menyadari jika dibalik perempuan yang kuat angkat barbel, kuat berdiri satu jam penuh di gerbong kereta yang penuh sesak ini ada jiwa yang sesungguhnya sangat fragile. 

Padahal kalau dipikir lagi, bukan saya yang menjaga Bakas setiap hari, bukan saya yang setiap saat menghadapi orang sakit dan dokter yang vonis-vonis nya sungguh mengecilkan hati. Tapi hari-hari terakhir ini terasa semakin berat terlewati. Mohon kirim doa-doa terbaik untuk Bakas ya teman-teman, semoga di bulan baik ini akan semakin banyak hal-hal baik terjadi. 

Untuk teman-teman diluar sana yang saat ini sedang berjuang, atau mendampingi orang-orang terdekat menghadapi Kanker, hang on there. Saya paham betapa beratnya pertarungan ini untuk kalian. Percayalah, keajaiban selalu ada. 


Amin 
@noninadia 

You Might Also Like

2 comments