The Longest 36 Hours

18.21

Sebelum mulai cerita boleh ya saya kasih pesan dulu: 


Sekarang ini pancaroba kayaknya terjadi sepanjang tahun, you can blame to weather at anytime, karena emang jaman sekarang cuaca selalu ngaco, di satu hari bisa panas banget, tiba-tiba hujan deras 5 menit kemudian terik lagi. Gitu aja terus sampe semua virus dan bakteri beranak pinak. Penting banget untuk jaga kondisi badan. please stay healthy karena sakit itu rasanya nggak enak banget :( 

Pertengahan minggu lalu saya baru merasakan bahwa hidup ini rasanya fragile sekali. 

Selasa, 14 Maret 
saya sedang bekerja di kantor, dikabari dari rumah Arwen sesak napas lagi. "tenang aja bu, sudah diuap, anaknya sudah main dan ceria lagi tuh." 

Oke deh, saya pun lanjut bekerja. pulang ke rumah seperti biasa. 

Malam itu entah kenapa Arwen rewel sekali, tidurnya terganggu dan nggak nyenyak, bolak balik mengigau dan gak bisa lepas dari pelukan saya, jadilah malam itu saya bergadang, bangun setiap satu atau dua jam menenangkan Arwen agar bisa tidur nyenyak. 

Rabu, 15 Maret 
Jam 3.30 Pagi, sesak napas datang lagi, saya menyiapkan alat nebulizer, menyiapkan obat yang sudah diracik dokter lalu menguapi Arwen, setelah 10 menit diuap, napasnya kembali lega, tapi tidurnya masih juga belum bisa nyenyak. 

Jam 6.00 Pagi, sesak napas lagi, diuap lagi. 

bolak balik kejadian sesak napas setiap dua jam, total hari itu diuap sampai 6 kali. 

Selepas magrib, sesak napas semakin hebat, muka Arwen merah menahan sesak, badannya panas dan berkeringat, kasihan banget liatnya, tanpa menunggu lagi saya larikan dia ke UGD RS terdekat dari rumah. 

Sampai UGD, karena Arwen sudah berkali-kali diuap dengan nebulizer tetapi nggak mempan, diputuskan pasang infus dan diberikan obat sesak melalui suntikan. 
disaat bersamaan dijalankan juga test darah tepi dan rotgen paru-paru. 

Saat itu kondisi saya panik, riweuh menenangkan anak sesak dan rewel, serta kurang tidur bikin saya nggak cukup alert untuk memahami bahwa kondisi ini gawat. sampai dokter bilang: 

"Bu, anak ibu tidak bisa masuk ruang perawatan biasa harus di ICU" 

"Gimana dok?"

"Pada kondisi anak yang asma yang tidak cepat respon diberikan obat sesak via suntikan ada resiko gagal napas, jadi pasien harus terus menerus dibawah pengawasan tenaga medis. sampai kondisinya stabil" 

Masalahnya kita nggak tau kapan kondisinya akan stabil.

Jangan ditanya apa perasaan dan reaksi saya saat itu.  Untuk pertama kalinya saya hampir menyerah dari tantangan menjadi orangtua yang super berat ini. Saya cuma pingin nangis takut anak saya kenapa-kenapa. asli saya nggak pernah nangis se histeris kemarin dari terakhir saya diputusin pacar jaman SMA. 

ini pun ngetiknya masih sambil berkaca-kaca. 


Lewat tengah malam kami masuk ruang perawatan ICU, badan kecil Arwen yang sudah kelelahan setelah sesak napas, menangis di tusuk jarum infus, menagis risih dipasang selang oksigen, menangis karena dipaksa berbaring di meja rotgen, lantas kembali dibikin menangis karena harus dipasang berbagai kabel alat untuk memonitor gerakan napas, tekanan darah, dan aktifitas jantung. 

Monitor konstan berbunyi disamping tempat tidur dan memberikan alert setiap ada aktifitas tanda vital yang diluar normal. Malam itu monitor bunyi berkali-kali menunjukan aktifitas tarikan napas yang terlalu cepat. kembali lagi bolak balik saya membayangkan resiko gagal napas. nangis lagi. Never been under that GREAT stress. NGGAK MAU LAGI! 
:(

Seolah belum cukup cobaan buat kami malam itu dokter kembali datang dan bilang harus menjalankan satu tes lagi yaitu Analisa Gas Darah, darah yang diambil untuk tes ini tidak bisa dari pembuluh Vena tetapi harus dari Pembuluh Arteri yang letaknya lebih jauh dari permukaan kulit. Proses ambil darah lebih sulit dan lebih sakit. dokter minta bantuan saya untuk menjaga memegangi badan Arwen agar tidak meronta ketika disuntikkan jarum ke pergelangan tangannya. 

Iya saya megangin Arwen, sambil ikutan nangis histeris. 

Malam itu saya nggak tidur sedikitpun, menatap layar monitor sambil terus berdoa, semoga saya masih diberi kesempatan membawa Arwen pulang ke rumah dengan kondisi sehat seperti sediakala. 

Kamis, 16 Maret 
My Arwen is a little fighter, hasil test darah menunjukan tingkat Leukosit yang tinggi sekali sampe 3 kali dari batas normal, paru-paru nya meradang jadi nggak heran kalau dia sangat kesulitan bernapas. 

Kamis siang mulai ada kemajuan, walaupun masih sesak Arwen bernapas teratur, tapi to be safe, dokter belum mengijinkan kami pindah ke ruang perawatan biasa. Satu malam lagi saya habiskan di kamar ICU tanpa tidur dan selalu khawatir setiap melihat layar monitor. 

Jumat, 17 Maret 
Akhirnya setelah 36 jam, pagi harinya dokter mengijinkan Arwen pindah ke kamar perawatan biasa. Saya lega satu per satu selang dan kabel monitor mulai dilepaskan dari badan kecilnya. Sangat-sangat tidak berharap hal kayak gini akan terulang lagi.

Test darah ulang hari ini menunjukkan kondisi yang mulai berangsur membaik. Leukosit sudah kembali ke angka normal yang menunjukkan bahwa infeksi sudah tidak ada. Kondisi fisik pun sudah mulai terlihat baik, napas teratur, nafsu makan mulai kembali datang. 

Karena sudah mulai lincah, sore harinya Arwen  tanpa sengaja bikin infus sambungan infus bengkok dan harus dicopot. setelah dokter visit diputuskan pengobatan bisa dilanjutkan dengan obat minum dan bisa pulang malam itu juga! aaaaaa.. senang sekali. 

Kalo diingat-ingat lagi rasanya "nyes" banget, betapa hidup ini ringkih sekali, nggak terbayang jika kami terlambat memberi Arwen pertolongan medis dan terjadi hal buruk. Amit-amit *ketok kayu* 

Dari sini saya sadar banget kalo saya bukan ibu yang cukup kuat untuk menghadapi hal-hal semacam ini. gak kebayang rasanya menjadi ibu dari anak-anak yang mengidap penyakit cukup berat yang sifatnya jangka panjang. 
Semoga Tuhan berkati terus ibu-ibu hebat seperti kalian ya, amin. Saya dicoba segini aja nangis nya udah kaya apa. 

Doakan Arwen sehat terus ya. Ibuk zombie out bobok dulu :) 


@Noninadia 




You Might Also Like

7 comments