Tips & Trik Membeli Rumah Dengan KPR

11.05




Cari rumah kayak cari jodoh.
Kalau diingat-ingat lagi perjalanan kami menemukan Casa the Harsya’s ini lucu banget, udahlah kami keliling mencari rumah yang dijual dari MentengCikiniKemang, Bintaro, BSD, Depok, Bogor, Jagakarsa, ujungnya pencarian berakhir di rumah sebelah orangtua. Literally sebelahan yang temboknya nempel. Mungkin sebagian orang berpikir bencana tinggal deket sama mertua, tapi buat saya sungguh rezeki karena mertua saya masakannya enak jadi saya gak perlu masak. 


Iya Nadia emang anaknya cetek gitu. 


Yang kami temukan adalah rumah second di perumahan lama, jadi tetangga-tetangganya adalah opa dan oma pensiunan. Gak punya tetangga sebaya. Tapi enaknya infrastruktur dan lingkungan sudah “jadi”, seneng banget di depan rumah kami dinaungi pohon mangga yang adem dan kalau lagi berbuah bisa panen dibagikan ke orang sekampung. Jadi memang jodohnya bukan dengan perumahan baru yang dibangun developer.




























Kami membeli rumah dengan KPR dari bank (yakali sini anaknya Bakrie bisa beli rumah 
cash?), jadi melalui postingan ini saya akan sharing bagaimana pengalaman saya mengajukan KPR ke bank untuk membeli rumah yang kami tempati sekarang.
Inti dari pengajuan KPR yang sukses adalah persiapan. Ini hal-hal yang saya persiapkan sebelum mengajukan KPR ke bank:

1.      Cari rumah yang mau dibeli
Udah jelas ya, jadi sedari awal memang kita harus menetapkan rumah mana yang mau dibeli. Untuk rumah dalam kategori ini terbagi dua:
a.      Perumahan baru yang dibangun oleh developer. Ini baik untuk bank dan pembeli sama-sama nggak ribet, karena harga sudah fix ditentukan diawal sesuai dengan harga dari developer. Jadi sejak awal perhitungannya biaya-biaya nya lebih mudah diprediksi.
b.      Rumah second. Nah ini, bank harus melakukan appraisal (survey) dulu terhadap harga rumahnya, biasanya dibandingkan dengan harga pasaran rumah di sekitarnya. Kalau beruntung, bank bisa menaksir lebih tinggi jadi kita bisa bayar DP lebih kecil atau bisa juga bank naksir harga nya kerendahan jadi nombok deh untuk DP nya.

2.      Uang Down Payment (DP)
Mari kita berpelukan dulu karena di sini adalah tahap yang paling berat. Intinya cuma satu: rajin-rajinlah menabung.

Untuk pembiayaan bank hanya bisa memberikan 80% dari harga rumah (untuk pembelian rumah pertama) jadi kita HARUS mempersiapkan 20% + biayanya.
Uang muka ini mutlak harus kita sediakan jika ingin membeli rumah second.

Tapi jangan sedih, saya mulai lihat kok di beberapa iklan rumah dijual ada developer yang memberikan fasilitas DP rumah bisa dicicil setahun misalnya. Ini membantu banget lho.

3.      Biaya-biaya yang timbul
a.      Biaya Appraisal (biaya survey)
Setiap bank menetapkan biaya yangberbeda-beda. CIMB Niaga menetapkan Rp1.000.000 (satu juta rupiah), Panin  Bank Rp600.000, BII Maybank Rp400.000 dan surveynya cepet lagi. Recomended nih!

b.      Biaya Notaris
Pada dasarnya detail dari biaya notaris terbagi dua, biaya untuk akta jual beli antara pembeli dan penjual, dan biaya untuk pengikatan antara bank dan nasabah. Sejak awal harus dipastikan ya dengan penjual, biaya ini mau ditanggung siapa? Pembeli, penjual, atau dibagi 2 sama rata.

Untuk nilai transaksi di bawah Rp1 miliar, pada akhir tahun 2014 (ketika saya memulai cicilan rumah), siapkan saja budget sekitar Rp15.000.000,-
Mudah-mudahan kenaikannya gak terlalu banyak ya tahun ini.

c.       Biaya Pajak Pembeli
Besarannya adalah 5% dari NJOP. Misalnya rumah yang saya beli dalam tagihan PBB-nya tertulis NJOP sebesar Rp300.000.000, jadi pajak yang saya bayakan adalah Rp15.000.000.
Namun ada beberapa notaris yang tidak menyarankan untuk memakai NJOP sebagai pengali pajak, karena khawatir hal ini akan menjadi temuan pemeriksa pajak, karena biasanya nilai jual jauh berbeda dengan nilai NJOP. Biasanya mereka menyarankan untuk memakai plafon bank sebagai pengali pajak. Keputusan tetap di tangan pembeli ya.

d.      Asuransi Jiwa dan Kebakaran.
Ini biasanya bawaan dari bank. Besarannya variatif tergantung plafon yang diberikan, nilai rumah dan umur nasabah. Pada transaksi saya perlindungan asuransi jiwa dan kebakaran untuk nilai rumah di bawah Rp1 miliar selama 15 tahun sebesar kurang lebih Rp15.000.000. Lumayan yaaa :)

e.      Biaya administrasi dan provisi
Biasanya besarannya adalah 2% dari plafon yang diberikan.

Silakan berhitung :)

Dokumen-dokumen yang perlu dipersiapkan:
1.      Identitas pembeli (jika sudah menikah: KTP Suami-istri, Kartu Keluarga).
2.      Surat Keterangan Bekerja. Biasanya KPR akan lebih mudah tembus jika kita sudah bekerja lebih dari 1 tahun di perusahaan tersebut.
3.      Slip Gaji 3 bulan terakhir.
4.      Rekening 3 bulan terakhir. Saya dapat bocoran katanya saldo tidak penting, bank lebih melihat mutasi uang masuk apakah rutin setiap bulan.
5.      Dokumen rumah (copy sertifikat, copy IMB, copy tagihan PBB).
6.      Identitas Penjual.

Tips dari saya untuk yang pertama kali mengajukan KPR: 

1.      BI checking is IMPORTANT, jadi pastikan kita bersih dari tunggakan utang ke bank ya. Coba dicek lagi historical pembayaran kartu kredit, ini sepele tapi nyebelin dan berpotensi bikin KPR nggak approve oleh komite kredit bank.
2.      Bank akan memberikan plafon yang cicilan per bulannya maksimal 30% dari penghasilan. Cicilan lainnya DIPERHITUNGKAN. Jadi, misalnya kita masih punya cicilan lain seperti cicilan mobil, kartu kredit dan lain-lain itu akan mengurangi plafon yang diberikan bank. Jadi beberapa waktu sebelum mulai mengajukan dokumen KPR, saya sibuk membayar lunas kartu kredit saya. Mejret sih rasanya. Tapi demi rumah ya sudahlah. :)
3.      Pastikan rumah yang dibeli surat-suratnya lengkap dan bebas sengketa. Kalo ternyata iya, se-jatuh cinta apapun dengan rumah itu lebih baik tingggalkan saja. Ribet urusannya.
4.      Make every expenses clear. Komunikasi ya sama yang jual rumah, tentukan sejak awal mana biaya-biaya yang menjadi tanggungan pembeli , mana yang jadi tanggungan penjual. Biar enak urusan selanjutnya.
5.      Siapkan mental, ini akan jadi urusan yang melelahkan. Tapi kalau dokumen kita lengkap dan clear harusnya nggak akan ribet dan lama.

Proses pengajuan KPR yang saya jalani sejak dari awal submit dokumen sampai dengan akad kredit memakan waktu kira-kira 2 minggu. Akan lebih cepat jika yang dibeli adalah rumah baru dari developer.

Yuk mari jemput rumah impian. Saya yakin di zaman sekarang beli rumah buat anak muda macam kita gini (muda lo bilang Naad?) bukan hal yang mudah, tapi bisa diupayakan. Semoga segera ditunjukkan jalan untuk mendapat rumah impian.
Ada amin? AMINNNNN!

@noniadia out



You Might Also Like

0 comments