My Dream Job Series: Suar Sanubari - Senior Associate Lawyer

10.44

Saya mendedikasikan beberapa postingan blog ke depan untuk menghargai prinsip: "Living life to the fullest" dengan mengangkat kisah orang-orang di sekitar saya yang menurut saya Inspiratif, orang-orang  yang menghargai seluruh aspek kehidupan mereka dengan berkarya. saya beruntung sekali mengenal mereka sebagai teman. Kisah mereka menemukan jati diri dalam pekerjaannya sungguh menginspirasi dan saya tidak berharap kisah inspiratif ini berhenti di saya. so let's spread this positive energy, karena kalau bisa saya ingin menularkan senyum saya ke seluruh dunia. 



Anggapan saya terhadap pekerjaan yang sesuai dengan passion adalah selalu yang berhubungan dengan hobi, saya banyak sekali mendengar cerita seperti seorang Dokter yang sebenarnya lebih suka fotografi, atau kisah teman saya yang seorang Akuntan tapi sebenarnya ia ingin menjadi penari balet, atau konsultan komunikasi yang berubah haluan menjadi Make up Artist (Halo Nanath!). Jarang sekali saya melihat pekerjaan konvensional yang digeluti dengan sepenuh hati. 

Jadi, melalui blogpost ini saya mencoba mematahkan mitos, bahwa pekerjaan yang bisa dijalani dengan sepenuh hati selalu pekerjaan-pekerjaan yang diawali dari hobi yang sifatnya non-konvensional, walaupun tidak bisa dikatakan selalu senang dalam menjalaninya (Hey, there's no such a thing you will always happy right?) but I can see the spirit, the flame. 

Perkenalkan teman saya: Suar Sanubari sejak mengenal Suar, saya tahu dia adalah pribadi yang unik, se unik namanya. He's Bold. He's clever, Opini dan pemikirannya sangat kuat  dan jujur saja menulis postingan blog ini sungguh menjadi beban untuk saya mengingat kemampuan menulis Suar yang menurut saya bagus banget! (kenapa sih Su, nggak jadi penulis dan bikin blog atau buku sekalian?). 

Sehari - hari Suar Bekerja sebagai Senior Associate lawyer di salah satu firma hukum besar di Jakarta, harinya dihabiskan seperti layaknya orang kantoran: rapat, concall, membalas email, menyusun dokumen, ada juga pekerjaan yang spesifik profesi ini, seperti menghadiri sidang pengadilan atau arbitrase, berurusan dengan kepolisian, kejaksaan atau lembaga negara lain. 

Lantas Apa uniknya? justru karena dia bisa melewati hari "biasa" orang kantoran yang kadang baik, kadang busuk dengan tetap optimis dan tidak menyerah. This Spirit! 

dibawah ini sedikit cuplikan obrolan saya dengan Suar: 

Suar, Ceritain dong background pendidikan dan awal mula Karier kamu. 
Sarjana Hukum (SH) dari Universitas Indonesia dan Master of Laws (LLM) in Comparative and International Dispute Resolution dari Queen Mary University of London. Pendidikan S2 ditempuh dengan Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP.

Saya pertama kali bekerja di suatu firma hukum yang baru beberapa tahun berdiri, berkantor di BEI, Titel saya waktu itu 'junior associate'. Sebagaimana semua entry position, paling sering mendapat pekerjaan-pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Mulai dari riset, menterjemahkan dokumen, menyusun arsip, mengantar dan mengambil dokumen, menerima komplen klien sampai menyusun due diligence report (yang pada dasarnya pekerjaan data entry).

Hari pertama saya bekerja adalah 30 April 2007. Saya ingat merasa begitu senang diberi meja kerja yang terlihat 'profesional' lengkap dengan komputer, telepon dan alat tulis (padahal kubikel). Tetapi mengingat itu merupakan pekerjaan pertama dalam hidup (yang saya dapat setelah menganggur 3 bulan sejak lulus S1), wajar saya senang, bangga sekaligus lega.

Hari itu saya hanya mengerjakan dua hal dan selesai pukul 16:00. Firma tempat saya bekerja waktu itu punya budaya tidak boleh pulang sebelum partner pulang (meski tidak ada kerjaan), akibatnya paling cepat pulang pukul 19:00. Hari pertama kerja saya pulang pukul 20:00 meski sudah kosong sejak sore. Untungnya, seiring berjalannya karir, saya bisa mengatakan bahwa tidak semua firma hukum memiliki budaya seperti itu.

Transisi dari kehidupan mahasiswa ke profesional cukup berat. Awal bekerja agak terkejut dengan harga-harga makanan SCBD, sementara kantong masih mahasiswa Depok. Selain itu, kenaifan saya sebagai mahasiswa dihancurkan oleh realitas suram sistem peradilan Indonesia yang korup maupun politik kantor yang penuh skandal. Saya ingat mengalami depresi menghadapi semua itu (begitu pula beberapa teman-teman yang berada di industri yang sama).

Namun, di awal karir ini saya sudah langsung menyadari bahwa salah satu keuntungan profesi saya adalah kesempatan untuk mempelajari berbagai industri maupun aspek kehidupan dan bertemu dengan berbagai karakter menarik.

Apa sih yang menjadi turning Point kamu ketika menemukan passion di pekerjaan kamu 
'Passion' sebagaimana namanya (gairah) itu fluktuatif, hilang dan timbul. Saya sendiri sudah bercita-cita menjadi Lawyer sejak kecil (selain menjadi akuntan dan psikolog--namun sayangnya saya payah dalam berhitung dan terlalu agresif). Tapi apakah itu bisa dibilang passion? Saya rasa tidak, itu masih sekedar keinginan karena terpesona citra (semu?) glamor Lawyer tanpa benar-benar mengetahui apa sebenarnya di balik semua itu.

Selain itu, bentuk passion tersebut juga berubah seiring saya semakin menjadi dewasa (menua?). Saat pertama kali bekerja, dengan kenaifan fresh graduate junior associate, saya bisa dengan mudah mengatakan 'I love my job!' Namun, seiring dengan waktu dan gerusan kesuraman pekerjaan (jam kerja yang tidak pasti serta terkadang panjang, atasan bully, rekan kerja licik, ketidakpastian promosi, berurusan dengan pejabat korup serta bandit, dan lain-lain), ada masa-masa di mana saya ingin berhenti dan pindah profesi.

Tetapi tentu banyak juga masa-masa di mana saya menikmati profesi ini. Saya banyak belajar bagaimana dunia ini bekerja dan bisa mengembangkan kemampuan membaca situasi dan watak orang. Saya juga bertemu orang-orang yang berkarakter kuat dan inspiratif, mulai klien, atasan, rekan kerja, junior sampai staf. Pekerjaan ini juga membawa saya bepergian ke berbagai tempat, bahkan sampai ke London.

Selain itu, gajinya cukup untuk hidup nyaman apabila bisa mengatur keuangan dengan baik. 

Pada intinya, sekarang saya menikmati pekerjaan ini dengan seluruh privilese dan tantangannya. Namun, setelah bekarir selama hampir 10 tahun, saya tidak berani menyatakan dengan tegas bahwa saya akan selalu mencintai pekerjaan ini. Oleh karena itu, sulit menentukan turning point saat saya menyadari passion terhadap profesi ini.
oke, jadi sebenernya apa sih passion kamu, Suar? 
Passion saya adalah 'to travel and interact with interesting characters and cultures.' Sejauh ini profesi saya bisa menjadi sarana untuk menjalani passion itu (tapi tentu tidak bisa disandingkan dengan travel writer, jurnalis foto, pekerja NGO, mata-mata atau pasukan khusus)

ok, His Social media feed speak them all : 




*Tepuk tangan* 
*terus tadi kesimpulan saya salah dong ya?* 
tadinya saya pikir passion dari seorang Suar adalah berdebat sepanjang hari dan menghapal pasal-pasal, lho. (Nadia, minta digetok pake palu pak Hakim) 

Terus, tantangan terbesar ketika kamu memulai dan menjalani pekerjaan apa sih? 
Tantangan terbesar dalam memulai profesi ini adalah menemukan firma hukum yang mau menerima saya bekerja di situ. Namanya anak baru lulus, belum memiliki CV dengan nilai jual yang kuat dan masih butuh waktu untuk belajar sampai bisa berevolusi menjadi lawyer yang efektif.

Sedangkan, tantangan terberat dari menjalani pekerjaan ini adalah menghadapi sistem peradilan yang korup.

Are you Happy with what you do? with your current Job
I am happy with my life. I know it is partially because of my job, but my job is not the only thing that makes me happy. Although I can't imagine myself working in any other profession, so far.


Seandainya nih, kita kembali ke 10 tahun lalu, nasihat apa sih yang akan kamu kasih?
Jangan berharap akan ada atasan yang akan menjadi patron untuk mengangkatmu ke kesuksesan. Ingatlah kata orang bijak: 'in business, as in life, you don't get what you deserve, you get what you negotiate.


Bekerja sesuai passion adalah kemewahan, tapi bagaimana kalau ternyata kita kita terperangkap di dalam pekerjaan yang rasanya biasa aja, tapi gak suka-suka banget sih, tapi juga kadang ketemu hal yang tidak menyenangkan. will you quit? 

Ada kata tanggung jawab yang beriringan dengan menjadi orang dewasa. Dari obrolan ini saya bisa menarik kesimpulan: Somehow, dream job is Overrated. you just need to do what you have to do. mungkin ada sebagian orang yang punya kemewahan untuk memilih pekerjaan impiannya. di sisi lain, ada orang yang sangat pintar, berbahagia dengan memaksimalkan potensi dari pekerjaan yang memang sudah dijalani nya.(hey, siapa yang gak menikmati  business trip sambil traveling gratis, misalnya?). 

Kalau kamu, jadi yang mana? 

noninadia out 
Cheers 







You Might Also Like

0 comments