Cerita Arwen menjadi Penghuni Daycare

14.59


Jadi Ibu itu berat. Membayangkan menjadi ibu untuk saya yang semasa masih gadis piara kaktus saja mati sungguh membuat gentar.
Jadi Ibu bekerja? Gentar kali dua.

Untuk itu sejak awal saya menjadi ibu, saya sudah menanamkan sikap pada diri saya untuk tidak gengsi menerima bantuan. Jujur saja, untuk tetap waras, ibu perlu mendapatkan support system yang layak. Melalui proses Hamil, melahirkan, drama postpartum sungguhlah sebuah pengalaman yang melelahkan. Ada masa saya sangat menikmati jadi Ibu, tapi namanya manusia wajar jika sesekali saya merasa lelah.

Support sistem terdekat saya adalah Baby Sitter. Saya beruntung sekali tahun lalu bertemu Mbak Nia, Baby sitter  yang merawat Arwen seperti anaknya sendiri. Sayang, perhatian, bisa diandalkan. Semua berjalan normal sampai beberapa bulan yang lalu mbak Nia harus kembali ke Kampung halamannya karena akan menikah. Kisah klise yang bikin dunia saya porak-poranda.

Seperti yang saya bilang sebelumnya Mbak Nia dan Arwen attached sekali. MungkinArwen lebih sayang mbak Nia daripada Ibunya. Jadi ketika mbak Nia pulang kampung, yang patah hati bukan hanya saya, Arwen juga. Jangan tanya drama nya seperti apa ya. Lelah lahir batin deh pokoknya.

Pencarian nanny baru pun dimulai, ternyata masa penyesuaian tidak berjalan mudah. Di usia 1,5 tahun Arwen sudah bisa mengenali orang, tidak mudah untuk mencari pengganti mbak Nia. Kami orangtua pun seperti harus beradaptasi ulang. Setelah mencoba 2 orang Baby Sitter pengganti saya masih belum bisa ketemu dengan yang sreg di hati. Mungkin salah juga karena segala sesuatu yg berhubungan dengan baby sitter yg baru ini selalu di benchmark dengan standart mbak Nia. Rasanya super  galau dan ingin memutuskan untuk resign dari pekerjaan.
Di masa transisi ini Arwen diasuh oleh neneknya, saya tidak tega juga merepotkan orangtua yang sudah berumur. Nenek pasti senang-senang saja bermain dan menjaga cucu, tapi fisik dan stamina kan sudah tidak muda lagi, saya cuma takut mereka kelelahan dan ikutan jadi sakit. Triple trouble.

Sampai suatu hari terbersit ide untuk menitipkan Arwen di Daycare. Awalnya ide ini ditentang oleh orangtua saya. Mereka tidak tega Arwen harus jauh dari rumah dan dititipkan ke orang Asing. Tapi daripada saya harus ketemu drama Baby Sitter lagi, saya meneguhkan niat untuk melakukan survey ke bebrapa Daycare. Ini nih Beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya dalam meilih daycare:

1.      Lokasi. Saya lebih memilih Daycare yang lokasinya berdekatan dengan rumah. Lokasi berdekatan dengan rumah dipertimbangkan agar si anak tidak kelelahan di perjalanan menuju daycare. Saya gak tega jika Arwen ikut merasakn macet berjam-jam jika saya pilih lokasi Daycare yang dekat kantor.
2.      Lokasi daycare di dalam perumahan bukan di dalam gedung atau ruko. Saya mempertimbangkan sirkulasi udara, entah kenapa rasanya sumpek kalau berada seharian di dalam gedung tanpa terkena sirkulasi udara bebas. Setelah saya cek memang ternyata ada gejala yg yang dinamakan “sick building syndrome”.
3.      Rasio antara pengasuh dan jumlah anak seimbang. Biasanya untuk anak usia diatas 1 tahun idelanya 1 pengasuh mengawasi maksimal 3 anak, untuk bayi dibawah 1 tahun idelanya 1 pengasuh mengawasi maksimal 2 anak.
4.      Faktor keamanan,  akses menuju rumah sakit untuk kondisi darurat dan reputasi daycare itu sendiri.

Satu lagi yang paling penting: Feeling Ibu, sreg atau tidak nya kan Ibu yg paling tahu.

Akhirnya setelah melaui berbagai pertimbangan pada bulan November 2015 Arwen resmi menjadi penghuni salah satu Daycare di daerah Jatibening. Setelah 6 bulan berjalan, di dalam perkembangannya  ada beberapa catatan plus minus yang saya buat:

Plus:
·                     Arwen jadi anak yang lebih mandiri, berani dan cenderung tidak bergantung. Hari-hari awal di daycare adalah masa terberat untuk saya dan Arwen, kami berdua patah hati habis-habisan ketika berpisah setiap pagi di teras daycare.  si bayi menangis menjerit-jerit tidak mau ditinggal, si ibu pun jadi ikutan sedih dan tidak tega. sore hari pun tidak kalah drama, ketika dijemput, si anak yang sedang asik main sendiri pun jadi nangis sesenggukan melihat Ibunya menjemput, semacam diingatkan lagi sama luka batin tadi pagi. untungnya setelah sebulan pertama terlewati kami sama-sama belajar, si bayi belajar terbiasa si Ibu juga jadi lebih let go. hasilnya Arwen sekarang jaauh lebih mandiri, tidak lagi ada drama menangis setiap pagi.

·                     Life skill lebih terasah. selain diasuh oleh nanny di daycare tempat arwen dititipkan punya kegiatan harian yang terprogram. kegiatannya sangat sederhana, contohnya: belajar mewarnai, melipat kertas, main pasir, sampe belajar cuci piring dan memetik sayuran.  walaupun semua adalah hal yang sangat sederhana, saya seneng banget sama kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Arwen, belum tentu kan kalau diasuh baby sitter di rumah  kepikiran diajarin hal-hal kayak gini. Hal ini juga saya pertimbangkan sebagai latihan sebelum Arwen sekolah nanti.


·                     Banyak mata mengawasi. bukan bermaksud paranoid sih, tapi jaman sekarang jadi orangtua harus banget hati-hati apalagi buat ibu bekerja, agak riskan juga meninggalkan anak di rumah hanya dengan pengasuh tanpa ada orang lain yg kita percaya untuk mengawasi. kalau di daycare, pengasuh tidak hanya satu orang, lebih mudah bagi mereka untuk saling mengingatkan, apalagi jika ada owner dari daycare disitu akan lebih mudah untuk kita sebagai orang tua untuk mengontrol keselamatan buah hati. plus Daycare tempat Arwen dititipkan ada cctv yang bisa di akses dari Smartphone, jadi, kapan saja saya bisa mengintip kegiatan mereka.

·                     Perkembangan emosi dan ego anak jauh lebih positif. Logika nya sederhana, Arwen terbiasa bertemu dengan anak sebayanya di Daycare, mereka melakukan hal bersama-sama, tidak ada yg lebih istimewa antara satu anak dan yang lainnya. mainan yang disediakan dimainkan bersama-sama (Ketentuan di Daycare anak tidak boleh membawa mainan dari rumah ataupun membawa mainan Daycare ke rumah) jadi sense of sharing nya sudah terbentuk dari kecil. masih suka berantem sih kalau rebutan mainan, tapi frekuensinya jaraaang sekali jika dibandingkan dengan anak seumurannya. 


·                     less gadget exposure. ini gak bisa terhindar banget deh, awal perkanalan Arwen dengan lagu anak-anak di youtube adalah beberapa waktu yang lalu ketika saya membawa dia ke suatu acara yg membutuhkan Arwen duduk dengan tenang, untuk itu saya berikan smartphone saya untuk  nonton lagu anak-anak di youtub, eh.. keterusan. kalo dirumah agak sulit melarang dia (walaupun kita maksimalkan semua gadget taruh di laci!) nah kalau di daycare Arwen teralihkan dengan kegiatan-kegiatan yang ada di dalam program. 

·                     Tidak perlu pusing mikirin menu makanan karena udah di sediakan oleh daycare. (jangan dicontoh ya ibu pemalas model saya gini) 

Minus :
·                     Tambahan alokasi waktu dan biaya transportasi untuk mengantar dan menjemput si anak.
·                     Waktu me-time ibu lebih sedikit,  waktu istirahan ibu dikala weeken juga berkurang. Tapi kalau bukan weekend kapan lagi si ibu bekerja bisa main dan quality time sama anak? Kegiatan di kala weekend juga terbatas.
·                     Lebih gampang terexpose virus dan kuman penyakit dari teman sebayanya. ini gak bisa terhindarkan banget deh, satu anak flu yang lain ikutan. makanya saya cenderung merekomendasikan anak yg udah diatas 1tahun  atau lebih tua untuk dititipkan di Daycare, agar si anak sudah punya sistim imunitas badannya yg lengkap. 
·                     kalau anak sakit terpaksa ikutan gak masuk kantor, karena tidak mungkin kan dititipkan di Daycare. biasanya setiap daycare punya kebijakan sih, sejauh mana anak yg kurang fit masih bisa dititipkan. 
Tidak selamanya hari-hari menitipkan Arwen di Daycare berjalan mulus. Saya pernah mengalami rasanya jantung merosot sampai ke jempol kaki ketika saya dikabari oleh Nanny di daycare bahwa sesak napas Arwen kambuh dan inhaler nya tertinggal di rumah. Saat itu posisi saya sedang di kantor di daerah Thamrin, saya harus menuju Daycare di jatibening untuk membawakan inhaler secepat mungkin. Ketika terjebak macet di Semanggi saya menangis sesenggukan diatas Ojek. Ya, jadi ibu memang se drama ini ya?

Seujujurnya saya happy banget dengan perkembangan Arwen saat ini, saya beruntung sekali menemukan daycare yang cocok dekat rumah, rumah kedua yang hangat dan nyaman untuk Arwen serta Nanny-nanny yang saya dan perhatian. Saya sangat berharap akan semakin banyak Daycare yang punya konsep seperti ini untuk meringankan dan mempermudah ibu (khususnya ibu bekerja) untuk mengasuh anaknya.

Tidak bisa dipungkiri sih, kadang-kadang saya kangen punya baby sitter yang fulltime berada di rumah, apalagi ketika sedang lelah dengan pekerjaan kantor, sampai di rumah ingin leyeh-leyeh dan langsung istirahat, tapi ada anak bayi yg masih minta diajak main dan disiapkan baju tidur dan perlengkapannya untuk esok hari. Jadi ibu memang penuh konsekuensi.

Semoga tulisan ini bisa memberi gambaran untuk ibu-ibu diluar sana yang berniat untukmencari bantuan untuk membesarkan si anak bayi  (dengan menitipkan anaknya di daycare atau menggunakan jasa baby sitter) Jangan pernah merasa bersalah atau merasa bukan ibu yang sempurna karena meminta bantuan. Karena menjadi ibu yang bahagia lebih penting daripada terlalu keras berusaha menjadi ibu sempurna. Salam ibu hebat.

@noninadia


You Might Also Like

0 comments