Asuransi buat si calon ayah

20.47

Salahkan saja hormon, tapi sejak hamil saya anaknya jadi over sensitive dan paranoid berlebih. Untung aja kali ini paranoid nya berbuah bener. Biasanya ngaco..

Ini mungkin efek ketularan suami saya yang anaknya overthink level akut, jadi sejak hamil saya mikir nya jauh banget, ujug-ujug pengen cari TK yang dan SD yag memberikan pendidikan dasar budi pekerti lebih banyak dari pendidikan agama, ujug-ujug browsing program kuliah mana yg lebih banyak mengajarkan dan mendorong mahasiswanya jadi punya jiwa social dan enterpreneurship tinggi. 

Coba bu, usia anaknya berapa? 4 bulan... 
masih di dalam kandungan K
Iya, lebay..

Mudah-mudahan nanti saya gak jadi emak-emak rabid yg nyebelin gitu ya..
Urusan duit beda lagi, list nya udah panjang, dari nyiapin dana melahirkan, nyiapin dana beli perlengkapan perang si adebayi, ditutup  ngitung dana pendidikan nya dia dari pre-school  sampe Kuliah (Uang pangkalnya doang sik) Result: Tenggak Neuralgin 2 butir.. 
gentar mak.. gentar..

Nah, pas lagi itung-itung itu saya baru sadar, penghasilan yang mensupport dana-dana nyeremin diatas kan berasal dari 2 pihak, saya dan suami saya. Tiba-tiba jadi parno, gimana kalau tiba-tiba salah satu penghasilan menghilang?

Nah, kali ini keparanoid an saya berbuah agak bener dari yang biasanya ngaco, jadi coba buat riset untuk mencari asuransi jiwa buat mas Suami, kenapa buat mas suami? Karena dia gajinya lebih gede :p  karena asuransi jiwa saya sudah di cover oleh kantor sementara suami belum.
Gini ya, perlu di mengerti dulu, Asuransi jiwa itu fungsinya BUKAN UNTUK MENGGANTI NYAWA! (nyawa kalo udah hilang mah diganti satu dunia juga gak bakal balik!) nih fungsi asuransi jiwa yg bener:

1. Melindungi keluarga dari kehilangan penghasilan jika pencari nafkah utama meninggal dunia.
Jadi selama punya pasangan yg wajib dinafkahi, ada anak yg harus diberi makan dan  dibayarkan uang sekolahnya, sifatnya wajib punya asuransi jiwa. Hayoooo *kasih cermin*
Agar asuransi jiwa berfungsi optimal, maka perlu dihitung berapa sih uang pertanggungan yang cukup.  Itungan sederhana nya Paling tidakcukup besar untuk memberikan bunga/retur sebesar gaji per bulan jika didiamkan di deposito, obligasi/sukuk, atau reksadana pendapatan tetap.
Saya sih pake itungan bego-bego an. Paling tidak dana  dari uang pertanggungan tersebut bisa menghidupi keluarga dalam rentang waktu 10 tahun, jadi kalo si Ayah penghasilannya 10 juta per bulan UP nya: Rp. 10.000.000,- x 12 bulan x 10 tahun = 1.2M 
2. Melindungi keluarga dari beban utang.
Apa kabar jika pencari nafkah utama meninggal, keluarga yg ditinggalkan masih nyicil KPR? Ada utang usaha?
Nah. Perlu banget untuk menginventarisi utang keluarga dan dimasukan ke dalam jumlan uang pertanggungan.
3. Sebagai final expenses (biaya kematian).
Meninggal dunia itu butuh biaya dengan banyak nya ritual di budaya orang timur . belum lagi di perkotaan, tanah pemakaman harganya mahal, bisa jutaan rupiah hanya untuk sewa selama tiga tahun.
Pilihannya ada dua: apakah mau menyuruh anak-anak untuk membayar semua biaya itu, atau mempersiapkan sendiri mumpung masih hidup. Asuransi jiwa dapat dipandang sebagai salah satu cara mempersiapkan biaya terakhir hidup kita. Setidaknya ketika seseorang tiada, ia tidak pernah dikenang sebagai beban yg menyusahkan keluarga yg ditinggalkannya.
 Udah nyeremin belum? Iya udah. Makanya saya mulai riset ke beberapa produk asuransi jiwa yang kira-kira feasible dan bisa memenuhi kriteria diatas. Setelah dicari dan ditimbang-timbang, Produk yg dibutuhkan adalah asuransi jiwa Murni tradisional term 20.
Artinya premi yg dibayarkan nilainya tetap selama 20 tahun dan di akhir periode tidak ada hasil yg dikembalikan, tapi biasanya mereka memberikan uang pertanggungan yang besar. Yah? Gak nabung dong kalo uangnya hangus di akhir periode?
Iya. Kita kan bayar manfaat perlindungan asuransinya. untuk tabungan dah investasi punya instrumennya sendiri, ada sih jenis asuransi Jiwa-unit link yg di akhir masa pertanggungan ada uang kembali. Tapi, ketika saya bandingkan dengan UP yg sama (1.5 Milyar) si unit link premi nya Rp. 2jt Sebulan (24juta setahun), sementara asuransi Murni cuma 5 juta setahun!
Tapi kan ada uang kembali di akhir periode? Ya ngapain kalo uang kembali nya gak seberapa dan dipotong biaya administrasi dan reasuransi yg gede banget? Mending diinvestasikan terpisah.
Untuk si calon ayah, asuransi jiwa sudah dibeli sesuai dengan uang pertanggungan yang keluarga kecil kami perlukan. Jadi semacam mixed feeling ketika semua ini sudah di set up. Kami tau kami berada di dalam perlindungan asuransi yg bikin aman kondisi financial yang aman, lega di satu sisi :)
But when a question came out: “what is your plan, if one day, I died?”
We’re just hugging each other tightly and said: absolutely no idea. No, I believe it won’t come. We’re gonna living next 100 thousand years!
*lalu jadi cengeng ...*

doakan si calon ibu cengeng dan si calon ayah sehat terus ya. 
amin!

kecups
noniNadia 

You Might Also Like

1 comments