Mengapa Gw Terusik Dengan “Tes Keperawanan”

11.18

Kemarin saya membaca berita tentang rencana melakukan tes keperawanan di SMA (link berita di kompas.com:http://regional.kompas.com/read/2013/08/19/2212178/Siswi.SMA.di.Prabumulih.Wajib.Tes.Keperawanan). Alasannya karena marak praktik mesum atau prostitusi oleh siswa.
Bahwa pemerintah (pusat atau daerah) sering mengeluarkan ide-ide absurd dan bodoh mungkin bukan sesuatu yang baru. Ada ide-ide aneh yang memang lahir dari keterbatasan fungsi otak pejabat tertentu. Tetapi ada juga ide-ide yang sebenarnya sangat “logis” dari perspektif mereka (misalnya, bisa memperkaya kantong sendiri atau kantong partai). Saking seringnya mendengar soal ide-ide kebijakan bodoh atau licik ini, gw sampai udah terbiasa. Dengan kata lain, sudah kebal/baal, sampai tidak merasakan apa-apa lagi.
Tetapi entah mengapa untuk wacana yang satu ini, jujur gw merasa terusik. Mengapa? Beberapa alasan:
  1. Asimetri gender. Lagi-lagi, wanita berada dalam posisi dipojokkan. Mengapa hanya status keperawanan yang harus diuji? Mengapa tidak keperjakaan? Mengapa wanita wajib menjaganya, tetapi pria tidak? Gw yang pria aja merasa marah mendengarnya. Ini hampir sama dengan kasus perkosaan tetapi yang disalahkan wanita (dengan alasan: karena busananya “mengundang”, atau gerak-geriknya “genit”). Wanita ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah karena dia wajib menjadi obyek “pemeriksaan”, tetapi pria tidak.
  2. “Tetapi pria kan tidak bisa dites keperjakaannya?” Betul! Supaya fair, jangan juga mengetes keperawanan wanita dong?
  3. Violation (gw gak ketemu terjemahan yang pas buat kata ini) dari bagian terprivat wanita. Keperawanan dan kemaluan wanita adalah hal terpribadi milik wanita tersebut, dan tidak selayaknya dilihat, diobok-obok oleh orang lain tanpa seijinnya. Jika ini dilakukan oleh agen negara, maka seharusnya sudah masuk pelanggaran HAM.
  4. Terkait dengan poin di atas, adalah dampak humiliation (mempermalukan) dan discomfort (ketidak-nyamanan) dari prosedur tes keperawanan. Begini deh, gw yang cowok pernah tes hernia, di mana gw mau gak mau harus mencopot celana di depan dokter. Untuk prosedur medis saja gw sudah merasa tidak sangat nyaman, padahal prosedur ini dilakukan seijin gw sebagai pasien (dan prosedur lebih diarahkan pada dinding perut bawah/dekat testikel, bukan penis). Nah bagaimana perasaan anak remaja putri yang harus menjalani ini?
  5. “Dana tes akan diambil dari APBD 2014″. Entah ini akal-akalan untuk memperkaya partai, tetapi seharusnya pembayar pajak marah karena pajak mereka digunakan untuk hal seperti ini. Bagi pembayar pajak yang memiliki anak remaja putri, sama saja anda telah membiayai orang asing untuk bisa mengintip alat vital putri anda sendiri. Nggak marah ya?
  6. Daripada tes keperawanan, lebih baik modul pendidikan seks (termasuk resiko2 kesehatan dari aktivitas seks dini). Buat gw ini adalah pendekatan yang intelek, preventatif, dan menghormati pelajar sebagai manusia. Selain itu, tidak ada pembedaan putra dan putri. Kedua gender harus tahu risiko dan konsekuensi dari hubungan seks di usia dini. Jika masih ingin ditambahkan ancaman neraka, silahkan dilakukan di forum yang lebih tepat, misalnya kelas agama.
Apakah gw mengabaikan adanya masalah praktik mesum atau prostitusi di sekolah yang disinggung dalam artikel di atas? Tidak sama sekali. Itu bisa jadi isu riil dan perlu pembahasan tersendiri untuk mencari solusi atau pencegahannya. Tetapi buat gw pribadi, konsep “tes keperawanan” tidak bisa diterima untuk alasan-alasan di atas.
Gw bukan ahli pendidikan, atau psikolog, atau pakar apapun. Jadi semua yg gw tulis ini hanya opini awam saja, yang berusaha berempati dengan siswi SMA jika tes keperawanan ini benar-benar diterapkan. Jika sekolah konon adalah tempat mempersiapkan siswa menjadi “manusia” dewasa, mengapa sekolah justru melakukan hal-hal yang merendahkan ke-manusia-an (dehumanize) mereka? Tidakkah ini absurd?

You Might Also Like

0 comments