Segurat Ironi tentang Cinta yang Enggan Pergi

17.14


Jika cinta selalu punya cara untuk menentukan arah, Lantas mengapa cinta ini masih disini?
Puing terbesar rindu adalah saat kau hanya mampu menatap gambarnya, 
dan tiba-tiba kau tersadar, air mata saja tak pernah cukup membayarnya.

Cinta..
Mari berkemas, aku mengemas kenangan masa lalu, kau mengemas mimpi-mimpi burukmu. 
Andai semuanya semudah itu.

Cinta terkadang jenaka. Ada yang mengucap selamat tinggal tanpa aba-aba, ada yang bertahan walau harapan sudah tak ada.
Dan inilah aku, merindumu di setiap malam, sampai jelang tidurku, dan mimpi adalah tempat termudahku untuk berjumpa denganmu.

Memang cinta mampu memaafkan. Namun cinta juga seharusnya mampu membuatmu tersadarkan, 
tak ada luka yang pantas ditorehkan berulang-ulang.
kusebut namamu berkali-kali, dalam doa, dalam lagu, dalam puisi-puisi. Ironi, rindu tak juga kunjung pergi.

Kamu seperti batu. 
Merindumu hanya membuatku biru. Kemudian mengabu. Masa laluku masih terlalu banyak kamu.
Aku pernah berhenti, namun kau tetap saja berlari. Maka ketika kau sudah berhenti, pahamilah mengapa aku memilih untuk berlari.


*this poem written by Kakak Endang, edited by me. 
remind me things like 
if you've tried to forget the past for so long, but it has caused you nothing but unhappiness. Maybe it's time you tried to remember.  
Pedih Jendral! 


*kecups*
noniNadia 



You Might Also Like

0 comments