Cerita The Harsya's: Ketika Kami Bertukar Peran

15.42

Hai,
Kenalan lagi boleh nggak? Udah lama ya saya nggak nulis dan cerita tentang kehidupan kami di blog ini (ye emang udah lama gak nulis blog kaleee nad!) hahahaha iya maap.

Aku tuh sibuk banget ngalah-ngalain mbak Dian Satro yang punya 8 kontrak film dan 8 nominasi piala citra. Beneran! (muntah kelabang)

Ok Kenalan:
Hai Semua, saya Nadia. Ibu satu anak (berencana nambah) dan istri satu suami (belum berencana nambah). Kegiatan saya setiap hari adalah emak-emak yang jugling antara pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, ngejar commuterline naik ojek ke stasiun terdekat dan berkutat dengan deadline, angka, report, review dokumen dan closing (blahhh..) intinya saya adalah tim ibu bekerja di kantor.

Sejak lulus kuliah lebih dari sepuluh tahun lalu (buset lama!) saya belum pernah berhenti kerja kantoran, pernah sih, waktu cuti melahirkan. Tapi gak diitung ya? Saya lumayan kenyang bekerja baik dengan ikhlas, setengah ikhlas, maupun 100% ngomel dan gak cinta sama apa yang saya kerjain di kantor. (Hey! I admit life is suck sometime, right?). Kadang saya masih mimpi pengen jadi ibu rumah tangga aja, ngurusin anak, ngangetin sayur, dasteran dan memastikan rumah, beserta penghuninya selalu prima.

Tapi kayaknya untuk sekarang masih belum kesampean :’)


Sekarang kenalin, Suami saya, Agung Harsya. Kami biasa panggil dia Babeh. Sejak dia brojol dari kandungan emaknya. Dia udah cinta bola, bahkan lebih cinta bola daripada cinta istrinya, untung cintanya sama anak kami gak tergantikan. Awas aja!
Sejak kami pacaran dulu, dia gak pernah dateng malem mingguan karena setiap malam minggu PASTI ada pertandingan bola,  Kecuali pas resepsi nikahan kami, waktu itu malam minggu. Kalo dia gak muncul juga gara-gara nonton bola mah udahlah gw bakar aja lah itu stasiun TV yang nayangin!

Sejak SMP Agung Harsya udah tau mau jadi apa: Pemain Bola Eh, tapi kenyataan berkata lain, ternyata dia gak jago-jago amat main bolanya, waktu itu PSSI diminta milih antara dia atau Bambang Pamungkas, ya PSSI pilih Irfan Bachdim lah!

Walaupun patah hati, babeh udah tau dan memilih jalan hidupnya; Jadi Wartawan bola.
Saya bersaksi gak ada orang seberuntung dia ketika memilih pekerjaan, sebelum oom Rene Suhandono berkoar-koar soal passion dia udah memutuskan, gak mau ngerjain yang lain yang gak ada hubungannya sama bola. Ketika kids jaman now masih galau mau jadi apa, umur 10 tahun Agung Harsya sudah bikin analisa SWOT untuk tim yang bertanding di piala dunia 1990. Lalu dimuat di majalah Bobo :’)

Ok fast forward ke saat ini, Agung Harsya dapat semuanya, Pekerjaan yang dia suka, bayaran yang cukup untuk menghidupi kami bertiga, dan Kerja dari rumah  menghabiskan waktu lebih banyak sama anaknya.

Tolong kasihtau dimana adil itu berada :’)

Oke dengan kondisi saya harus bekerja di kantor, dengan jam kerja strict yang kalo telat 10 menit aja diminta bikin laporan:


“kamu telat kenapa?”
“tadi ada Sapi ngamuk di Sudirman pak!”
“kenapa sapinya gak kamu suruh ntar aja ngamuknya, kan kamu telat jadinya!”
 (kzl yak?)


Karena Babeh bekerja dari rumah selama koneksi internet ok dengan waktu lebih fleksible, kami semacam bertukar peran. Babeh jadi orang yang lebih paham urusan rumah, memastikan logistik selalu tersedia, memastikan listrik, mesin air, gas etc etc selalu lancar. Ketika Arwen masih di Daycare, PIC antar dan jemputnya adalah babeh.

Ngurusin anak? Gampil! Sejak Arwen masih bayi babeh udah canggih mandii, suapin makan, pokoknya dia Cuma gak bisa netein aja.  Kalo anaknya lagi rewel?  jajanin eskrim aja :’)

Arwen usia seminggu, ketika ibuk yang sudah 3 malam begadang butuh pijet 


Saya nggak berhenti bersyukur, karna gak jarang saya dengar cerita tentang stereotyping kalo suami dan ayah “cuma” bertugas cari duit. Urusan rumah, anak, dll biar ibu yang ngurusin aja. SE-MU-A-NYA. Wah, kalo gitu mah saya bisa gila. Salut untuk ibu-ibu yang bisa mengurus semua itu tanpa bantuan suami. Saya nggak bakalan sanggup.

Terimakasih ya Babeh, sudah menjadi patner yang sangat supportif :-*

Terus,apa sih minus point bertukar peran ini?
Sejujurnya gak ada karena aku seneng bisa kelayapan dan memstikan anak selalu aman bersama babehnya. Tapi, kan kami gak bisa mencegah orang berfikir dan mengutarakan pendapat ya?

Untuk sebagian orang apalagi kalau generasi orangtua kita yang masih sangat konvensional, stereotip yang benar adalah ayah bekerja di kantor, ibu mengasuh anak dirumah. Di situasi kebalik kami kadang kadang hal ini suka jadi pertanyaan, sampai seorang Bude pernah bertanya kepada saya:

“Suami kamu dirumah aja sih? dia gak kerja dan gak nafkahin kamu ya?”
“.....”
“Hahahahahaha nggak bude, dia duitnya banyak banget, bisa buat beli klub bola, tapi karena aku hobi kelayapan, aku masih belum bisa resign dari kerjaanku, nanti alesan kelayapannya apa?”
:’)

Oke, sebenernya apa sih nad yang mau lo sampaikan di postingan ini? Sejujurnya postigan ini saya dedikasikan kepada suami-suami, untuk tergerak bisa berbagi tugas dengan istri, ibu dari anak-anak kalian. Waktu saya cuti melahirkan, saya sempat mengalami 40 hari dirumah, rutinitasnya muter antara urusin anak, pekerjaan rumah, dan bekerja di dapur. Saya nggak sanggup melakukan semua itu sendiri tanpa merasa diremehkan aktualisasi dirinya (shame Nadia, shaaaaame..)  

Iya sih, bapak-bapak pasti capek ya seharian kerja di kantor. Tapi percayalah sedikit support, akan mencerahkan hari istri dan ibu yang seharian lelah di rumah. Offer some help. Gantian ajak main anak, or takeover diapers duty would be a nice gesture.

They’re super awesome!
Sejujurnya iri dengan istri-istri mereka :’)

Saya percaya, anak yang berkepribadian “utuh” di masa depan adalah anak yang mendapatkan cukup cinta dari kedua orang tuanya. Kedua orangtua yang hadir sepenuh tubuh dan segenap jiwa.

Oh, satu lagi, saya ingin mendedikasikan postingan ini juga kepada semua Ibu-ibu dan para Istri, its oke to feel tired and overwhelmed. Mintalah bantuan ketika kewalahan. Saya masih terus belajar di usia pernikahan kami  yang seumur jagung ini bersama suami, ini tips yang bisa saya kasih ketika sama-sama berperan menghadapi urusan rumah:

1.       Communicate!
Ask nicely, karena sesungguhnya suami bukanlah dukun atau mr.Oz yang bisa baca pikiran. Mungkin ibu-ibu mengharapkan mereka “sadar diri” ketika lihat istrinya kerepotan. Percayalah itu imposibruuu..

2.       Don’t Expect Perfect
Mungkin sebenernya suami sudah mau bantu, sudah merelakan waktu nya yang lagi enak-enak main PS untuk gantiin popok anak, tapi ibu protes terus:
“ ini popoknya miring”
“ ini bajunya gak matching”
“gimana sih kok lacinya gak ditutup lagi”
“Handuknya balikin lagi napa sih?! Udah aku bilang 100x jugaaaa...”

Iya, ini kejadian di rumah kami :))
Bagus ibuk gak dikirim ke bantar gebang :’)

Buibuuukkk, ada yang namanya kompromi, kalau maunya sesuai keinginan 100% sempurna ya lakuin sendiria aja, TAPI JANGAN NGELUH CAPEK YAAAA..

3.       Appreciate, Say thank you.


Lagi-lagi saya akan men-Quote prinsip parenting dari keluarga Kita, “Parenting is a marathon, not a sprint” maka sudah sepatutnya usaha yang kita jalani adalah usaha jangka panjang, kalo gagal sekali, ya cobain lagi aja. Semoga sukses yaaa.. 

salam sayang, 
@noninadia 

Aurora 2 Tahun

14.18



Hello, Meet my Aurora, malaikat kecil, anak dari sahabat saya Namira Monda.
Aurora terlahir dengan kondisi yang amat spesial, tumbuh kembangnya tidak seperti anak seusianya, di usia nya yang akan beranjak 2 tahun beberapa hari lagi, Auro masih mengikuti serangkaian terapi untuk mengejar tumbuh kembang dan sensory.  
  
Hari ini, saya akhirnya punya keberanian untuk bertanya kepada Monda, Aurora sebenarnya kenapa sih Mon? Monda menjawab:

In a short sentence gue  menyebutnya bawaan lahir, ketika gue hamil Aurora, pemerikasaan dokter, USD  semuanya normal, tidak juga bisa dibilang kelainan genetis karena biasanya anak dengan kelain genetis muka tipikal wajah yang khas, Auro tidak.  Tapi memang tumbuh kembangnya tidak seperti anak seumurannya. Well all I can say she’s just special J

Saya sebagai ibu-ibu baper selalu penasaran, bagaimana sih Monda menghandle pertanyaan-pertanyaan orang, mengatasi baper ketika mungkin beberapa orang yang bertanya menjadi out of the line, lantas kepo dan mungkin akan terdengar menghakimi?

Ya,dijawab pake senyum aja lah. Hahaha memang di awal rasanya berat dan sempat gak pede ketika orang ingin tau kondisi Aurora yang tidak seperti anak lain, namun seiring waktu semuanya jadi lebih mudah dihadapi. Gue udah gak baper lagi ketika menjelaskan kondisi Aurora ke orang baru. Untuk kondisi saat ini Aurora kan udah hampir 2 tahun, gue udah gak terlalu ambil pusing lagi ketika membandingkan kemampuan dan perkembangan Ulo dengan anak normal seumurannya. Walaupun masih suka membandingkan dengan teman-teman seumurannya yang juga memiliki special needs, tapi lagi-lagi buat ibu, setiap anak kan spesial, anak dengan perkembangan normal aja gak bisa dibandingan satu sama lain, apalagi auro yang special ini. So Im done my battle.
 J


Anyway, this statement slap me hard. Kadang saya terlalu jadi ibu yang ambisius sibuk membandingkan, Ih anak dia umurnya sama udah bisa begini begitu ini anak saya kok belum. Lalu rungsing sendiri. Tanpa pernah sadar untuk berhenti sejenak dan bersyukur. Duh Monda, terimakasih ya untuk pelajaran ini.

Menjadi orangtua adalah menerima segala kondisi anak, there’s nothing natural with flowers that bloom all year long, so you are. Jadi mulai saat ini saya berusaha untuk menerima bahwa kondisi anak tidak selalu sempurna berbunga-bunga, kadang kita harus belajar kecewa ketika ada ekspektasi yang tidak berjalan semestinya. Tidak apa-apa, namanya juga hidup J


Anyway, di ulang-tahun Auro yang ke 2 ini harapan kamu apa sih, Mon?

Harapan gue secara khusus sama seperti ibu-ibulainnya, berharap semakin hari Auro semakin banyak kemajuan untuk perkembangannya, we’re working hard to keep up, dengan fisioterapi, dengan usaha-usaha terbaik yang bisa dilakukan.
Harapan lain, Auro semakin diterima secara sosial, gue berharap semoga semakin hari akan semakin berkurang orang-orang yang menatap kami dengan pandangan aneh, I know we’re that special J gue juga berharap di masa depan kondisi akan semakin baik, gak ada bullying buat Aurora.

Kalau harapan saya? semoga semakin hari dunia ini menjadi tempat yang semakin ramah untuk anak-anak special needs, orang-orang dewasa di sekitarnya menjadi lingkaran yang menjaga mereka dengan penuh cinta. 
Saya percaya, Ibu akan terus menjaga, tapi ibu tidak punya umur sepanjang masa, dunia tidak akan terus menerus senyaman rahim ibu untuk mereka, tapi percayalah kita bisa tetap menjaga damai hidup mereka,  jadi tetaplah ramah kepada anak dan orang berkebutuhan khusus Karena cukup dengan berempati dan memperlakukan mereka dengan baik saja sungguh meringankan hari-hari mereka :’)

Duh kan nangis..


Nah Berhubung Aurora akan merayakan ulangtahunnya yang ke 2, yuk kita berbagi cerita, posting di Instagram dan berbagi cerita singkat tentang bersahabat dengan anak berkebutuhan Khusus/Odalangka cerita apa yang sudah ayah dan bunda lakukan atau akan lakukan untuk memperkenalkan dan mengajarkan kepada anak-anak tentang keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekitar kita.

Detail sayembara dan hadiahnya ada di IG @namiramonda
Kalau cerita saya, suatu hari Arwen pernah bertemu dengan Aurora, Arwen melihat dengan pandangan bingung, mungkin dibenaknya ada pertanyaan: Kenapa ya kok adek di hidungnya ada selang, lalu dia tanya:

“Ibu, adek pakai Apa?”
”Ini adek sedang belajar, mamamnya belum lancar jadi masih dibantuin, nanti adek semakin besar semakin pinter, kayak kakak Arwen. Karena adik masih belajar terus kakak Arwen harus  sayang ya”

Tanamlah kata-kata baik, hingga anak akan tumbuh menjadi jiwa yang penyayang. Kalo cerita kamu apa? Yuk berbagi karena percayalah cerita-cerita sederhana ini akan menjadi api semangat untuk si malaikat kecil Aurora dan Amih nya @namiramonda J

Selamat ulangtahun, Aurora!



Kunjungan ke Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana

15.12


19 Januari 2017
Malam itu tidur kami tidak nyenyak, setiap satu jam sekali Arwen terbangun dan menangis karena hidungnya mampet, batuk berdahak dan napas nya sesak. Saya sudah memberikan pertolongan pertama yang bisa saya lakukan dirumah, dimulai dari cara tradisional, membalur badan arwen dengan oil sampai dengan menggunakan inhaler dan mesin nebulizer.
Semua gak memberikan efek yang signifikan, napas masih sesak dan jika saya hitung dalam satu menit tarikan nafasnya lebih dari 40 kali.
Jam 4 subuh kami ke UGD. Arwen di Opname selama 4 hari dengan diagnosa Asma berat akibat dari bronkopneumonia.

15 Maret 2017
Lebih buruk dari yang pertama, bahkan inhaler dan nebulizer tidak bisa meredakan sesak napas, malam itu adalah malam terpanjang dalam hidup saya karena harus menghadapi mimpi buruk menunggu Arwen di ICU. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini.

Kalau diingat lagi saya masih merinding sekujur badan, tidak mau lagi kembali ke situasi malam itu, saya  berjanji, Hati dan mental saya nggak akan sanggup. Nggak akan.

11 September 2017
Setelah “bekerja keras” selama 6 bulan menghindari segala pencetus asma yang kami bisa, malam itu jam 3 dinihari kami berkunjung lagi ke UGD rumah sakit dekat rumah, setelah 2 kali percobaan nebulizer, sesak napas Arwen belum juga mereda.
Malam itu saya kembali ke situasi dimana saya ingin merelakan apa saja untuk memindahkan sakit yang Arwen rasakan ke saya. 

“Dulu ketika saya menghadapi kontraksi melahirkan, setelah 18 jam diinduksi, ketika rasanya seluruh sakit yang ada di dunia diletakan di tulang panggul saya, suster meminta saya untuk menjawab pertanyaan: “In Scale 1 to 10, how you rate your pain?”

Demi Tuhan, saya belum pernah merasa sesakit itu, sakit yang rasanya tarikan napas saja bisa bikin tulang belakang tercabut dari badan. It was awfully hurts!
Tapi, saat itu dengan sisa tenaga yang saya punya, dengan yakin saya mengacungkan 9 jari, kenapa sembilan, padahal sakitnya sudah tidak tertahankan? Because Im saving the Great 10 for Arwen, sakit yang sebelunya saya rasakan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sakit yang harus saya hadapi ketika melihat anak saya mega-megap kehabisan napas mencari oksigen, sakit ketika menghadapi jeritan tangis ketika tangan mungilnya ditusuk jarum, dan sakit ketika mendengar dokter berkata: “ Ibu tolong jaga dia tetap sadar, jangan sampai gagal napas, bisa lewat..”

Tiga kali, kami mengalami perjalan mahal menghadapi malam kritis, sungguh Traumatis.

Saat ini Arwen sehat walafiat, tidak kurang satu apapun, tetapi tetap saja, kami harus berjaga agar serangan asma tidak datang lagi. Setelah 3 kali pengalaman opname, saya mulai berpikir selama ini kami selalu ke dokter ketika serangan asma sudah datang. Dokter spesialis anak dan spresialis paru selalu menganjurkan untuk menghindari penyebabnya. Hindari pemicunya. Saya sudah bisa mengidentifikasi apa aja sih pemicu sakit asma Awen (vetsin, cokelat etc) tapi tidak pernah tau pasti karena Arwen tidak pernah menjalani test alergi.

Saat itu saya ingin mencoba mencari opini lain dari RS di Penang, namanya juga ikhtiar kan? Tapi ketika mengobrol dengan salah satu teman saya yang sudah pernah berobat ke Penang (bukan ke klinik alergi dan asma sih berobatnya) dia menyarankan untuk coba di cek dulu ke Klinik Alergi dan Asma Dr. Indrajana di Tanah Abang. Karena alergi nya terobati disini.

Oke berhubung lokasi kliniknya dekat dengan kantor, gak ada salahnya untuk dicoba.



Kamis, 28 September 2017
Saya menghubungi klinik tersebut untuk berkonsultasi dengan dr. Moestopo Widjaja, beliau hampir setiap hari praktek di klinik dr. Indrajana, jadwal bisa dilihat disini. Sesi konsultasi diatur per kedatangan, tapi gak usah khawatir, antrian nya gak se-kejam kalau antri dokter di RS kok, most likely dr Moestopo standby di Klini, jadi jarang ngaret.
Saat saya datang konsul, saya update status lewat instastory, ada beberapa teman saya menanggapi, ada yang bapaknya dulu kena asma berat dan bisa ditanggulangi setelah konsul dengan Dr. Indrajana  (Fyi, saat ini yang mengelola klinik dr. Indrajana sudah generasi kedua, Dr. Indrajana sudah meninggal dunia saat ini diteruskan oleh anak dan menantu nya). Wah ternya klinik ini sudah lumayan terkenal sejak dulu, nyesel juga baru tahu sekarang.

Pertama kali konsultasi setelah mendaftar, Arwen dipanggil untuk diambil darahnya untuk screening.  Iya, langsung diambil darah banget :’) diambilnya lumayan banyak sekitar 4ml ternyata sample darah ini disimpan jika butuh test tambahan setelah hasil screening darah pertama keluar. More on that later.

Setalah nya saya diwawancara oleh suster yang bertugas, pertanyaan standar untuk anak asma seperti: sejak kapan kambuh asma nya, ada keturunan atau tidak, dirumah ada binatang peliharaan atau tidak, ada yang merokok?

Selanjutnya kami ketemu pak dokter untuk pemeriksaan fisik anaknya, sambil konsultasi gimana sih daily habit nya anak ini. Doktenya sudah senior, keliatan sudah sanagn berpengalaman  berbagai macam penyakit asma dan alergi. Galak tapi informatif dan lucu (ini gimana sih buk maksudnya?)
 Pak dokter tanya:  

Dokter: Siapa yang nurunin asma nih?
Ibuk:  Saya dan suami saya dua-duanya Asma dok.
Dokter: Waduh
Ibuk: Iya, kalo dulu saya tau mah gak saya kawinin dok.
Dokter: *ngakak*

Sambil menunggu hasil test darah keluar, pak dokter meresepkan obat racik yang bisa kami simpan kalau-kalau terjadi serangan asma, diminum 3x sehari, obat ini disimpan di kulkas dan bisa bertahan selama 4 bulan sejak tanggal racik. Pak dokter menyarankan untuk memperbaiki kualitas gizi, meminimalisir debu di rumah, serta olahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh Arwen.

Setelah selesai konsul  saya melihat fasilitas klinik ini ada UGD 24 jam bila serangan alergi dan asma tidak bisa tertangani di rumah, cukup melegakan walaupun saya nggak berharap untuk datang kesini.

Senin, 2 Oktober 2017
Hasil pemeriksaan darah pada screening pertama sudah keluar, menunjukkan laju endap darah & Eosinofil yang lebih tinggi dari keadaan normal. Kalau saya baca ini adalah mekanisme pertahanan tubuh terhadapa alergi atau bakteri, jadi memang ada kecenderungan infeksi bakteri atau alergi.

Nah dari sini dokter merekomendasikan untuk test alergi lanjutan, untuk mencari tahu pasti sebenernya Arwen alergi apa sih?
Ada 5 kategori yang menjadi sub test alergi kalau saya baca dari rujukan:

  • 1.       Alergen hirup (debu, tungau, kotoran kecoa dll)
  • 2.       Spora jamur
  • 3.       Pollen/Tepungsari
  • 4.       Serpihan kulit
  • 5.       Makanan


Setiap orang akan dirujuk berbeda berdasarkan hasil interview, berdasarkan habit, dan berdasarkan terpaan dari penyebab alergi ini. Arwen gak tinggal di peternakan kan, jadi gak perlu tuh tes alergi bulu domba, atau selama ini dia baik-baik aja pas makan nasi, jadi gak perlu di test alergi nasi atau nggak. Bisa juga sih test semuanya, TAPI MAHAL BANGET JADINYA!

Nah, test lanjutan ini menggunakan sample darah yang sudah diambil sebelumnya. Ada sih cara lain yaitu prick test, yang ditusuk langsung dibawah kulit ditunggu beberapa waktu dan liat reaksinya, tapi untuk seusia Arwen masih terlalu kecil. Mungkin diatas 5 tahun baru bisa.

Nah, Senin minggu depan hasil test alergi Arwen baru akan muncul. Saya berharap banget bisa segera tau dan bisa menghindari pemicu asma Arwen. Walaupun sakit Asma gak semerta-merta hilang paling nggak usaha kami untuk menghindari pencetusnya bisa lebih baik dan lebih spesifik.

Eh ini ya bocoran biaya saya ketika konsul ke Klinik Asma dan Alergi Indrajana:
Biaya Administrasi Rp. 35.000 (pasien baru)
Biaya konsul dokter Rp. 250.000,-
Lab Screening : Rp. 85.000,-
Obat : Rp. 158.000,-
Test Alergi : Rp. 1.421.000,-


Alamat:
Klinik Asma dan Alergi  Dr. Indrajana
Jl. Tanah Abang 3/18A Jakarta 10160 – Jakarta
021-3841919, 3803558

Demikian postingan ibuk, semoga bisa membantu untuk orangtua yang sedang berjuang menanggulangi penyakit Alergi dan Asma anak-anaknya. Eh gak Cuma untuk anak-anak sih, klinik ini juga bisa untuk orang dewasa. Semangat ya!

@noninadia out.  



Pencarian Sekolah dan Kursus Renang untuk Arwen

16.48

Karena punya riwayat sakit Asma, dokter bolak-balik menyarankan untuk mengajak Arwen secara rutin olahraga berenang, 

"Eits Bukan berenang yang sekedar cibang-cibung main air aja ya buk, tapi berenang dengan teknik yang benar, bergerak dan atur napas. jadi diharapkan dengan napas teratur yang efeknya sama seperti badan kita berolahraga bisa meminimalkan serangan asma datang lagi dan juga bikin daya tahan tubuh lebih kuat " 

"Oh, kirain cibang-cibung di kolem gini aja udah diitung berenang dok.. " 
"Ya nggak dong Ibuuuukkk... " 




Jadi, dimulailah pencarian ibuk untuk mencari pengajar/kursus renang untuk Arwen mulai latihan. setelah browsing-browsing dan survey ketemu deh kandidat sekolah renang/pelatih renang dibawah ini: 

Anak Air Swimming School
Tagline nya adalah Anak Air swimming school adalah sekolah renang yang memfokuskan diri pada pengajaran berenang dengan pendekatan bermain dan cara yang menyenangkan, padalingkungan yang nyaman. Ok Im Sold! to Cibubur We went!

Lah jauh amat ibuk?! iya, Anak Air swiming School punya beberapa cabang, (Bisa dilihat disini) yang terdekat dari rumah kami adalah cabang Cibubur, jarak dari rumah 15km perjalanan sekitar 45 menit. 

Jadi pada suatu minggu sore kami menghadiri satu sesi untuk arwen trial berenang dengan didampingi pelatih dari Anak Air swimming school. 
Impresi saya untuk Anak Air cabang Cibubur ini cukup menyenangkan, mereka punya kolam renang semi indoor yang mumpuni sekali untuk belajar berenang. dengan metode satu anak satu pengajar bisa fokus apalagi kalau balita kan belum bisa dilepas sepenuhnya dan penerimaan instruksi nya masih belum fokus ya. 

Kelihatan sekali instruktur di Anak air ini sudah terbiasa menangani bayi dan balita sehingga udah gak canggung lagi berinteraksi dengan mereka di kolam renang. yang lebih meyakinkan lagi mereka meng klaim pengajar mereka memiliki pelatihan dari 
World Aquatic babies and Children. Okesip




nih bocoran biaya nya: 

Biaya Pendaftaran: Rp. 175.000,-

Kelas 1 jam: Rp. 650.000 (4x pertemuan sebulan)
Kelas 30 menit: Rp. 425.000 (4x pertemuan sebulan) 

Kelas 1 jam Rp. 1.125.000(8x pertemuan sebulan) 
Kelas 30 menit Rp. 750.000 (8x pertemuan sebulan) 

Kemarin Arwen ikut kelas trial per kedatangan Rp. 130.000,- 
cukup rasional ya harganya. 

kalo tertarik silakan nih alamatnya 

Anak Air Swim School 
jl. Alternatif Cibubur KM4
perumahan Grand Cibubur 
telp: 081290061005 (WA aja, lebih respon daripada telepon) 

Dolphino Swim Lesson (IG: @privatrenang_ )
setelah menempuh perjalanan selama 45 menit pada saat berangkat dan 55 menit disaat pulang, di hari minggu tanpa macet, Ibuk menyerah pada cibubur. ok, you just like my dream honey, too far. *cray*

Jadi setelahnya ibuk mencari kandidat sekolah/kursus renang kedua. 
okesip layaknya ibuk-ibuk jaman now yang nyari apa aja lewat instagram, isenglah ibuk memasukan tagar #kursusrenangbekasi #kursusrenangyangdeketrumahaja lalu dengan ajaib instagram seperti menjawab semua permasalahan hidup dengan memuncukan feed Dolphino swim lesson. 

Saya menghubungi kontak nya, jadi mereka semacam perkumpulan beberapa pelatih dan bisa dipanggil ke rumah/kolam renang umum dekat rumah. Berhasil bikin janji untuk latihan dengan Arwen di kolam renang umum dekat komplek rumah hari minggu sore, dimana perjalanannya cuma 5 menit, naik ojek juga nyampe nih. no hassle. 

Arwen dilatih oleh Ms Fitri (ini sengaja saya minta pelatih perempuan, agar lebih nyaman aja kalo anaknya dipegang-pegang sama pelatihnya). pertemuan pertama sih saya melihatnya masih fase pengenalan jadi arwen diikutin maunya gimana, ms. Fitri membawakan arwen pelampung papan, jadi anaknya heboh bolak balik gelantungan pake pelampung. 

Ms Fitri pengalaman melatih balita juga, jadi sudah luwes berinteraksi dengan mereka. lumayan lah arwen sudah mau langsung attached, tapi belum 100% ngikutin instruksi ya. kita liat pertemuan-pertemuan selanjutnya ya, semoga ada perkembangan. 

ini bocoran biayanya : 

biaya pendaftaran 
Rp. 50.000,- 
Rp. 500.000 per 4 pertemuan 
contact :  0858-1044-6635
oh iya, kalau latihannya di kolam renang umum biaya masuk pelatihnya kita yang tanggung ya. 

CSJ_Swim Club 
Ini juga ketemu di Instagram, sempet tanya-tanya juga, tapi belum sempat dicoba karena keburu komit untuk 4x pertemuan dengan ms Fitri. tapi ini diinfo buat pricelist nya, barangkali ada yang tertarik: 




Demikian, petualangan dan pencarian pelatih renang untuk Arwen. saya belajar setelah 2 atau 3 kali pertemuan kuncinya ada pada managing the expectation. Kayaknya saya kebanyakan liat video di youtube dimana ada bayi 10 bulan yang udah jago banget renang jadi berharap si Arwen ketika nyebur langsung canggih wara-wiri pake gaya kupu-kupu kombinasi salto dan loncat indah, padahal mah kenyataannya saya harus berdamai dengan bocah koala nemplok yang heboh nepuk-nepuk air lalu batuk keselek air yang cipratannya sampe muka. 

gakpapa nak, yang penting kamu sehat dan bahagia aja udah cukup :') 
ibuk not a tiger mom






Jadi, 
kalo cibang-cibung gini.. yang lebih bahagia siapa? 


@noninadia out 
see ya!

Bayi Perlu ke Dokter Gigi?

16.18



Kalau ada bagian paling rewel dari badan saya sudah pasti itu adalah tulang belulang dan gigi. Mungkin ini efek ketika saya masih kecil kurang konsumsi kalsium dan minum terlalu banyak antibiotik, jadi gigi saya jeleeekk banget. Literally jelek, mulai dari susunannya yang tumpuk-tumpukan bak masalah hidup, karies dan bolong-bolong serta warna nya yang gak putih cemerlang.

Belum lagi masalah si geraham bungsu yang well, anak bungsu tuh emang biang onar dan selalu nuntut perhatian ya? Ampun dah! Berapa kali tuh saya operasi geraham bungsu. Ngadepinnya sekarang sih udah woles dan santai padahal mah ngeri pisan ngebayangin gigi sehat kuat perkasa dicabut paksa.

Jadi, jujur aja expenses buat dokter gigi lebih besar dibandingin medical expenses lainnya. Nah, dari situ saya belajar kalo nanti saya akan berusaha biar Arwen sejak se awal mungkin giginya dirawat dengan benar, jadi di masa depan dia gak usah repot kayak saya gini.


Beruntung banget, Arwen saya ikutkan di Daycare yang programnya sangat peduli dengan tumbuh kembang anak, salah satu program yang bikin saya ingin nangis terharu adalah program 6 bulanan  pemeriksaan gigi. Ngertiin banget  yekan emak-emak sibuk macam kita gini suka nggak sempet bawa anak ke dokter gigi. Yang sebenernya paling cuma setahun 2 kali itu. Pasti kerja di NASA ya buk, sampe gak sempet bawa anaknya periksa gigi. Ehe ehe  ehe

duh, mana bu dokter meni bageur, bisa banget pdkt sama anak-anak dan bikin situasi kondusif sehingga bisa bikin anak-anak pitik ini mau buka mulut biar giginya diperiksa, bayangin bikin anak 3 tahun untuk buka mulut masukin makanan aja kadang susah, ini lagi membujuk anak untuk buka mulut diperiksa giginya. Sakti! 




Yang Minta bocoran ini Drg. Ferty Dwi Ekasari, Praktek di Apotek Quality Caman Raya No. 23 B Jatibening bekasi. bisa banget kalo janjian silakan hubungi nomer 0812-1314-0886

Selain telaten memeriksa gigi anak-anak dan bayi di Pepito Daycre, drg Ferty juga mengajarkan ke anak-anak serta nanny yang mengasuh, gimana sih teknik sikat gigi yang baik dan benar, langsung sambil praktek. ciamiks deh pokoknya. 



nah, dibawah ini saya rangkum hasil dari diskusi dang ngobrol-ngobrol dengan dokter gigi barangkali bisa jadi insight berguna buat bukibuk sekalian. silakan disimak.. 

Q: Perawatan gigi sehari-hari untuk bayi dan balita tuh seperti apa sih?
Konsep utamanya adalah menjaga agar rongga mulut dan gigi selalu bersih. Sejak usia bayi perawatan mulut dianjurkan untuk menyikat lembut gusi dan lidah bayi dengan kain kasa,  setelah gigi muncul sah aja untuk memperkenalkan anak dengan sikat gigi bergagang, tapi ibu bisa tetap membantu membersihkan gigi dan lidah bayi dengan sikat jari silikon. Kayak gambar dibawah ini ya:

Pasta gigi bisa dipakai sejak anak umur 6 bulan, biasanya pasta gigi bayi sudah di formulasikan khusus dan aman jika tertelan.

Q: Idealnya, sejak umur berapa sih, anak dibawa dan diperiksa ke dokter gigi?
Idealnya sejak anak tumbuh gigi pertamanya, fungsi nya lebih sebagai “kenalan” agar mental si anak itu nerima kalau “gak nakutin lho ke dokter gigi itu nak”. nah jika anak sudah terbiasa melihat dan mengalami atmosfer di dokter gigi maka akan lebih mudah bagi si dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan maupun tindakan jika diperlukan.
Pokoknya, semakin dini memulai semakin baik, dan jangan tunggu anak sakit gigi dulu ya baru ke dokter gigi.


 Q: Kalau bawa anak periksa ke dokter gigi harusnya ke dokter gigi mana aja atau HARUS dokter gigi spesialis anak sih?

Memang beda ya dokter gigi anak dan dewasa? Jelas. Anak yang masih dalam masa pertumbuhan sangat dinamis secara biopsikososial dan bukan miniatur orang dewas, sehingga perlu perlakuaan khusus. Gigi anak berbeda-beda dalam pertumbuhannya ada periode gigi susu, campuran dan gigi tetap. Dalam masing-masing fase tersebut pendekatannya pun masing-masing berbeda. Lebih khusus lagi spesialis gigi anal juga menangani anak dengan kebutuhan khusus maupun yang bisa berkomunikasi ataupun tidak.
Jadi beda antara dokter gigi dengan dokter gigi spesialis anak pada prakteknya lebih kepada approach dan komunikasinya juga.

Tapi berdasarkan pengalaman saya,  jika hanya untuk pemeriksaan rutin, gakpapa kok kalau mau datang ke dokter gigi bukan spesialis anak. Arwen beberapa kali saya ajak periksa ke dokter gigi langganan saya yang spesialis Ortodonti.

Q: Apa sih Tindakan yang biasanya dilakukan oleh dokter gigi pada pemeriksaan anak bayi/balita
Gigi anak-anak karena kadar kalsium nya belum se kuat orang dewasa  terutama butuh perlindungan supaya tidak berkaries dan berpotensi menjadi gigi berlubang. Nah biasanya jika kontrol ke dokter gigi setelah dilakukan pemeriksaan jika dinilai perlu dokter gigi akan membersihkan karies memberikan aplikasi flour untuk melindungi gigi dari kerusakan.
Bentuknya pasta seperti membersihkan dengan pasta gigi biasa, tapi pengaplikasiannya hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi, In aman kok untuk anak usia dibawah 2 tahun.

Q: Dok, kalau gigi anak terlanjur berlubang dan butuh perawatan, apakah treatment nya sama seperti orang dewasa? Di bor gitu? Nakutin nggak sih?
Dibawah usia 5 tahun, anak mau buka mulut ketika diperiksa dokter gigi tuh udah bagus banget, akan lebih bagus lagi jika ketika perawatan gigi berlubang dia mau di tindak dengan bor, tapi biasanya pasien anak pastinya udah keburu takut, jadi kami bisa akali dengan alat manual yang namanya ekskavator, jadi lubang di gigi bisa ditanggulangi tanpa bikin anak takut.


Jadi disini ditekankan lagi betapa pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut anak dengan menyikat rutin gigi minimal 2x sehari, menghindari makanan yang terlalu manis dan rutin melakukan pemeriksaan gigi minimal 6 bulan sekali. Mendingan jangan percaya deh dengan ungkapan lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.

Saya sih gak mau dua-duanya!

Pulang dari pemeriksaan dokter gigi Arwen dapet oleh-oleh sticker dan Kalender 21 hari pengingat untuk sikat gigi pagi dan malam, saya tempel ini di dinding kamar mandi disebelah wastafel kami menyikat gigi. Membantu banget untuk gak skip menyikat gigi dan bikin acara sikat menyikat ini lebih fun.
Terimakasih ya bu Dokter Gigi.. sampai jumpa 6 bulan lagi.

@noninadia Out


Tips Berfaedah untuk Jalan-Jalan di Bali

13.37


Selalu menarik kembali ke Bali, destinasi wisata paling mainstream di Indonesia yang sepertinya yang akan ada habisnya untuk di explore, selalu ada tempat cantik untuk dikunjungi, selalu ada kafe-kafe lucu untuk mnghabiskan waktu santai, selalu ada aroma dupa yang bikin kangen dihirup lagi. selalu ada makanan enak untuk dicoba lagi, lagi dan lagi.

Dibawah ini catatan saya dari kunjungan terakhir ke Bali minggu lalu dalam rangka jadi pelari rekreasi di bali maratho 2017, tentang hal ini akan saya tulis di post terpisah ya. beberapa tips yang akan saya bagi ada dibawah ini: 


Naik taksi online dari Bandara Ngurah Rai.

Ketika mendarat di bandara Ngurah Rai, males banget dong kena "tembak" harga taksi bandara yang harganya fantastis itu. Saya menginap di area Seminyak, kira-kira 10km jaraknya dari bandara, untuk jarak sedekat itu kalau naik taksi bandara charge nya 125 ribu sampai dengan 150 ribu. kan mendingan lari ya (GAAAAK..)

Sementara kalau naik taksi online di app nya saya cek paling range harga nya sekitar 50-70 ribu tergantung lalu lintas saat itu, lumayan banget kan bedanya. Tapi karena masih ada penolakan dari agen transport lokal, taksi online di bandara Ngurah Rai nggak berani muncul terang terangan. Ini tips dari saya berdasarkan obrolan dengan salah satu driver Grab yang saya tumpangi:

1. Usahakan sudah memesan sejak di dalam gedung kedatangan, jadi jangan keliatan utak-atik hp di pintu keluar. Kalau keliatan sama agen atau oktun taksi online biasanya ditegur dan dibikin susah. Iya, seresek itu. 
2. Ketika sudah dapet driver coba teleponan untuk tentukan tempat janjian ketemu yang aman 
3. Hapalkan nomer plat.
4. Biasanya driver supir online ngumpul di area parkir G. Kalau mau repot sedikit kita harus jalan agak jauh ke situ. Tapi biasanya supirnya helpful kok kalo kita bilang bawa koper gede mereka akan jemput dan bantuin geret koper ke parkiran



Manfaatkan Jasa Laundry Express 
Salah satu hal yang saya suka dari bali adalah karena persaingan harga yang sempurna, banyak jasa murah tersedia dimana mana. salah satunya adalah jasa laundry kiloan. Hal yang saya nggak suka saat liburan adalah pakaian kotor yang numpuk. Rasanya gerah liat baju lembab, kotor, bau. Kadang kalau slebor nya muncul bisa main lempar aja ke dalam koper lalu kecampur dengan baju bersih. oh no!
 
Keranjang cucian kayak gini, bisa dilipat dan masuk koper beli di IKEA
Untuk menghindari pakaian tercampur saya sarankan bawa keranjang cucian kayak gini buat ngumpulin baju kotor. Setelah terkumpul agak banyak, ya 2 hari juga udah banyak kalo bawa balita mah, bawa ke jasa laundry. Kalo menginap di area bali selatan, kios laundry kiloan express literally banyak banget. Mereka rata-rata pasang harga 15-30ribu per kilo untuk cuci setrika. Yang paling murah saya temui di Ubud, 10ribu per kilo.

Saya drop laundry jam 4 sore, besoknya jam 9 pagi baju-baju itu sudah bersih, terlipat rapi dan wangiii.

Main di Pantai dengan Nyaman 

Ini perlengkapan tempur saya kalau ke pantai:
1. Sunblock
2. Kain pantai
3. Air mineral ukuran 1.5 lt. Bisa diisi air minum atau kalau sayang bisa  air mentah juga gakpapa. Ini buat bilas badan dan ngilangin pasir karena kadang di pantai tempat bilas nya suka bikin saya ngeri :) atau kalo mampir ke toilet beach club ternyata mereka gak punya spray di toiletnya (ehem halo Finn beach club)
4. Uang secukupnya ditaro dalam plastik kecil, biasanya buat beli minum, sewa kursi pantai atau jajan kelapa muda. 
5. mainan plastik buat Arwen main pasir

Semua perlengkapan ini bersama dengan hp saya masukan ke dalam plastik kresek, gak akan terlalu khawatir katau ditinggal-tinggal juga. 

Main deh kita tanpa ribet.



Pesan oleh-oleh diantar ke hotel
Saat saya mengajukan cuti dan mau liburan ke Bali saya sudah mendengar celetukan-celetukan: "bawain pie susu ya.." atau " kacang bali dan Pia legong nya jangan lupa ya" 

jujur saja salah satu pertimbangan saya malas ke pusat oleh-oleh adalah jalanan bali yang semakin lama macetnya makin susah di prediksi, plus tempat beli oleh-oleh biasanya ramai kayak pasar. nggak. nggak sanggup. 

nah, kemarin saya cobain beli pie susu dan oleh-oleh khas bali lewat telepon, dan mereka bisa sediakan jasa antar ke hotel. Yay! mereka kasih jasa free delivery dengan pembelian pie susu minimal 8 dus di area kuta. coba aja di cari di gugel. rata-rata oleh-oleh khas bali menyediakan jasa ini. 


Oh I Love you Gojek App
 Saya sudah ngidam soto ceker pasar kuta sejak tahun lalu, tapi susahnya saya traveling bareng balita, jam segitu anaknya udah tidur, gak mungkin kan ditinggal di hotel sendirin dan gak tega juga kalo diangkut ke kios soto demi ambisi ngidam ibunya. Go food Save me!

Saya juga coba beberapa makanan khas bali yang tempat makannya dirasa kurang nyaman untuk bawa balita tapi kepingin kayak Nasi pedes bu Andika dibeli pak app Go Food! 

cuma 
Belum sempet gojekin makanan dari Warung Cahaya *Cry* 

Selain itu, sanya sempet beberapa kali cobain cafee hopping di daerah Seminyak dan Canggu naik gojek. saving time banget mengingat daerah situ jalannya kecil dan rawan macet kalau naik mobil. pokoknya.. I love you Nadiem Makariem! 

Demikian sekilas tips pendek dari saya, semoga berfaedah dan bisa dipraktekan. yuk Bali lagi yuk? 


@noninadia Out!